Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga aluminium naik tajam di awal pekan ini karena pelaku pasar bersiap menghadapi "guncangan pasokan yang lebih dalam" setelah serangan Iran pada akhir pekan yang merusak dua produsen logam terbesar di Timur Tengah.
Senin (30/3/2026) pukul 08.45 WIB, harga aluminium acuan tiga bulan di London Metal Exchange melonjak 4,34% menjadi US$ 3.439 per metrik ton. Sebelumnya dalam sesi tersebut, harga mencapai level tertinggi sejak 19 Maret di US$ 3.492, mendekati puncak empat tahun di US$ 3.546,5 per metrik ton.
Kontrak aluminium yang paling aktif di Bursa Berjangka Shanghai juga naik 3,64% menjadi 24.775 yuan atau setara US$ 3.581,08 per ton, setelah sebelumnya naik hingga 3,91% menjadi 24.840 yuan, tertinggi sejak 19 Maret.
Aluminium Bahrain, yang mengoperasikan pabrik peleburan terbesar di dunia di satu lokasi, mengatakan pada hari Minggu (29/3/2026) bahwa mereka sedang menilai kerusakan akibat serangan Iran. Sementara Emirates Global Aluminium mengatakan pabriknya mengalami "kerusakan signifikan".
Baca Juga: Trump Ingin Ambil Minyak Iran, Pasar Global Hadapi Risiko Krisis Energi
Kekhawatiran akan gangguan pasokan aluminium telah meningkat sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai karena produsen aluminium di Teluk, yang menyumbang sekitar 9% dari pasokan global, tidak dapat mengirimkan material melalui Selat Hormuz.
Alba telah mulai menutup jalur peleburan yang mewakili 19% dari kapasitasnya pada awal bulan ini. Kerusakan serius pada pabrik-pabrik tersebut dapat menyebabkan pengurangan produksi lebih lanjut yang mungkin sulit untuk dipulihkan dengan cepat, kata para pedagang.
Di tempat lain di LME, harga tembaga turun 0,56%, harga seng naik 1%, harga timbal menguat tipis 0,08%, harga nikel sedikit berubah, dan harga timah turun 0,63%.
Di antara logam dasar lainnya di SHFE, harga tembaga melemah 0,60%, harga seng naik 1,20%, harga timbal tidak berubah, harga nikel melemah 0,85%, dan harga timah naik 1,37%.













