CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Simak 4 Skenario Dampak Perang Rusia-Ukraina terhadap Ekonomi Global dari Ekonom


Kamis, 24 Februari 2022 / 14:40 WIB
Simak 4 Skenario Dampak Perang Rusia-Ukraina terhadap Ekonomi Global dari Ekonom
ILUSTRASI. Tentara Ukraina. Press Service of the Ukrainian Naval Forces/Handout via REUTERS 


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Rusia telah resmi mengibarkan bendera perang dengan Ukraina. Pemerintahan Putin telah mengakui dua republik separatis yang memproklamirkan diri di Ukraina Timur dan memerintahkan invasi skala penuh ke Ukraina.

Perang Rusia-Ukraina ini akan semakin memukul ekonomi global yang saat ini masih berjuang untuk bangkit dari dampak pandemi Covid-19. Global Insight telah menyusun empat skenario sebagai dampak lanjutan dari konflik ini.

Skenario tersebut disusun oleh empat ekonom Global Insight yakni Scott Johnson, Jamie Rush, Anna Wong, dan Tom Orlik. Skenario tersebut disusun dengan melihat serangan terbatas Rusia yang memicu sanksi yang ditargetkan lebih lanjut hingga invasi besar-besaran dengan sanksi menyeluruh dan menggangu pasokan gas ke Eropa.

"Kami bukan pakar hubungan internasional, tetapi pembacaan kami atas informasi terbaru menunjukkan skenario yang tidak terlalu ekstrem karena konflik terbatas di wilayah Donbas dan kemungkinan besar memukul pasokan energi Eropa," tulis Global Insight dalam risetnya dilansir Bloomberg, Kamis (24/2). 

Baca Juga: Rusia Mulai Aksi Militer di Ukraina, Indeks Saham Sedunia Rontok, Dolar Menguat

Bagi Rusia, perang itu dinilai berpotensi memicu resesi. Sementara dampak untuk Eropa dan AS, kenaikan harga energi yang semakin tinggi bisa semakin mendorong inflasi di waktu yang tidak diinginkan meskipun tidak akan jadi bencana. 

1. Skenario pertama, kehadiran Rusia di zona konflik semakin besar. 
AS mengatakan invasi ke Ukraina telah dimulai tetapi Rusia mengirimkan sinyal yang beragam tentang niatnya di Ukraina. Jika pasukan Rusia memasuki zona konflik saat ini hanya terbatas di Donetsk dan Luhansk yang sudah berada di bawah kendali separatis, maka sanksi lebih lanjut akan terbatas meskipun risiko eskalasi tetap ada.

Sanksi yang diumumkan sejauh ini hanya akan menimbulkan tekanan ringan pada ekonomi Rusia. Gas akan terus mengalir. Dengan pendapatan minyak yang tinggi, Kementerian Keuangan dapat mengabaikan sanksi atas utang publik untuk saat ini. 

Pada skenario ini, kemungkinan Rusia membalas sanksi Eropa akan terbatas. Harga gas akan stabil di sekitar level saat ini dan konsisten dengan inflasi yang mendekati target akhir tahun ini, sehingga tekanan pada konsumen tidak akan mendorong resesi dan tidak akan ada tekanan pada Bank Sentral Eropa untuk memajukan atau mengundurkan jadwal pengetatan kebijakan moneternya.

Sementara dampak terhadap ekonomi AS akan terbatas karena wilayahnya jauh dari Ukraina. Sama seperti di Eropa, harga energi di AS diperkirakan akan stabil sejalan dengan target inflasi mereka.

2. Skenario kedua, serangan ke Ukraina Timur dimulai
Separatis mengklaim wilayah yang lebih luas dan Putin memiliki keluhan mendalam tentang kedaulatan Ukraina. Rusia dapat mendorong lebih jauh ke wilayah Donbas timur, di mana ia bisa berbenturan dengan pasukan Ukraina. Jika ini terjadi maka Rusia akan mendapat sanksi yang lebih berat.

Baca Juga: Ukraina: Invasi Darat Rusia Terjadi di Sepanjang Perbatasan Utara dan Selatan

Pembatasan besar pada sektor keuangan akan mengacaukan pasar Rusia, memaksa bank sentral untuk turun tangan untuk memulihkan stabilitas. Rubel akan jatuh dan memicu lonjakan inflasi, memaksa kenaikan suku bunga lebih lanjut di atas siklus pengetatan yang sudah agresif. 

Sanksi perdagangan dari global dapat memperpanjang rasa sakit dan meningkatkan risiko resesi di Rusia. Sanksi yang terus-menerus, suku bunga tinggi, dan rantai pasokan yang kacau akan membatasi prospek ekonomi Rusia.

Sedangkan dampak ke Eropa, harga gas akan semakin tinggi. Jika terjadi lonjakan harga ke 120 euro per megawatt per jam misalnya, dari level 90 euro saat ini, maka akan menimbulkan inflasi 2,6% pada akhir tahun. Resesi di Rusia dan beberapa gangguan pasokan tambahan karena sanksi akan menambah dampak negatif terhadap Eropa Timur. 

Dampak ke AS juga sama yakni harga energi akan semakin tinggi. Sebagai pengekspor energi bersih, AS dapat mengirimkan lebih banyak gas alam ke Eropa, menaikkan permintaan terhadap konsumen Amerika. Dengan lonjakan harga saat ini, IHK utama dapat melebihi 8% YoY di bulan Februari, dan akhir 2022 mendekati 5%, lebih tinggi dari proyeksi konsensus saat ini yakni  3,3%.

3. Skenario ketiga, terjadi invasi besar 
Jika serangan terbatas Rusia dibalas Ukraina dengan perlawanan maka Putin kemungkinan akan merespons dengan kekuatan besar dan semakin dalam masuk ke Ukraina. AS dan Eropa dapat menanggapi dengan sanksi maksimal, termasuk pembatasan kemampuan bank untuk melakukan bisnis dengan negara Barat dan larangan perdagangan yang lebih ketat.

Dampaknya ke Rusia, pelarian aset mungkin akan lebih intens, rubel akan semakin anjlok, inflasi akan naik tinggi dan gangguan perdagangan lebih besar. 

Sejumlah besar gas yang ditujukan ke Eropa dari Rusia mengalir melalui Ukraina. Dengan arus yang dialihkan dan cadangan yang ditarik, Eropa akan dapat tetap menyala jika gangguan hanya sementara. 

Meski begitu, kenaikan harga energi akan berdampak signifikan. Saat harga naik ke 180 euro per megawatt-jam dapat membuat inflasi kawasan euro di atas 3% pada akhir tahun, mengintensifkan tekanan pendapatan riil. Bersamaan dengan sentimen yang memburuk, resesi ringan kemungkinan akan terjadi. Menempatkan lebih banyak bobot pada risiko pertumbuhan daripada kenaikan harga energi yang bersifat sementara, ECB dapat menunda kenaikan suku bunga pertama pada tahun 2023.

Baca Juga: Rusia Serang Ukraina, Harga Bitcoin dan Mata Uang Kripto Lain Terjungkal

Bagi AS, dampak gabungan dari inflasi tinggi karena harga energi naik dan pertumbuhan yang lebih lemah akibat kondisi keuangan yang lebih ketat dan dampak negatif dari Eropa dalam resesi akan membuat Fed berkonflik. 

Dalam skenario di mana harga minyak melonjak lebih jauh ke US$ 120 per barel, IHK utama bisa menyentuh 9% di bulan Maret dan berada di kisaran 6% pada akhir tahun. Kondisi keuangan yang lebih ketat dan ekspor yang lebih lemah ke Eropa yang dilanda resesi juga akan menekan pertumbuhan ekonomi AS. 

"Dengan asumsi skenario ini terjadi, kami memperkirakan The Fed akan fokus pada risiko terhadap pertumbuhan. Hal Itu tidak akan mempengaruhi rencana kenaikan suku bunga pada bulan Maret, tetapi bisa mengarah pada kenaikan suku bunga yang lebih lambat di paruh kedua tahun ini," lanjut ekonom Global Insight. 

4. Skenario keempat, Rusia menutup saluran gas ke Eropa
Dalam invasi skala penuh, menghadapi sanksi maksimal dari AS dan Eropa, Rusia mungkin bisa membalas dengan mematikan aliran gas ke Eropa.

Bagi Rusia, pukulan terhadap pendapatan ekspor akan menambah kejutan dari penurunan harga aset, rubel yang lebih lemah, dan inflasi yang lebih tinggi. Resesi kemungkinan akan lebih dalam dan pemulihan akan lebih lambat daripada jika energi terus mengalir.

Menggambarkan probabilitas rendah, penghentian total pasokan Rusia bukanlah salah satu dari 19 skenario yang dipertimbangkan dalam simulasi keamanan energi Eropa. 

Dampak bagi AS akan jauh lebih parah jika skenario ini terjadi. The Fed akan semakin bingung antara kekhawatiran tentang lonjakan harga energi yang mendorong inflasi lebih tinggi lagi, dan kecemasan tentang risiko penurunan pertumbuhan. 

"Seperti dalam skenario yang parah, kami mengharapkan Ketua Fed Jerome Powell dan tim untuk lebih memperhatikan risiko terhadap pertumbuhan. Mimpi buruk bagi kebijakan moneter adalah jika ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali, yang mengharuskan pengetatan agresif," tulis Global Insight.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×