Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Operator telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara, Singapore Telecommunications atau Singtel, mencatat kenaikan laba tahunan pada tahun buku 2026.
Namun perusahaan memperingatkan prospek jangka pendek masih dibayangi risiko perang Iran yang memicu inflasi dan volatilitas mata uang di pasar-pasar utama Asia.
Mengutip Reuters, Kamis (21/5/2026), Singtel menyatakan tidak memiliki operasi langsung di Timur Tengah.
Baca Juga: Donald Trump Siapkan Aturan Baru Pengawasan AI di Tengah Kekhawatiran Ancaman Siber
Meski demikian, sebagian besar pasar utama perusahaan merupakan negara pengimpor energi bersih yang rentan terhadap lonjakan harga energi global.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan biaya operasional, melemahkan belanja konsumen dan bisnis, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Singtel menyebut pihaknya mengambil pendekatan lebih hati-hati terhadap prospek jangka pendek dan memperkirakan pertumbuhan earnings before interest and taxes (EBIT) hanya berada pada kisaran low hingga mid single digit akibat ketidakpastian di Timur Tengah.
Pada tahun buku 2026, EBIT Singtel tercatat naik hampir 9% menjadi S$ 1,50 miliar atau sekitar US$ 1,17 miliar.
Baca Juga: Pengangguran Australia Sentuh Level Tertinggi dalam 4,5 Tahun pada April 2026
Chief Executive Officer Grup Singtel Yuen Kuan Moon mengatakan, perusahaan terus memantau perkembangan situasi geopolitik global.
“Kami terus mengawasi perkembangan situasi untuk melihat potensi dampak lanjutan terhadap stagflasi serta pelemahan sentimen konsumen dan bisnis,” ujarnya.
Perusahaan menambahkan kontrak listrik jangka panjang yang dimiliki saat ini diharapkan dapat membantu meredam dampak kenaikan harga energi.
Namun Singtel tetap mengingatkan bahwa volatilitas nilai tukar di pasar regional dapat menekan pendapatan setelah dikonversi.
Singtel membukukan laba bersih inti sebesar S$ 2,77 miliar untuk tahun yang berakhir Maret 2026, naik dibandingkan S$ 2,47 miliar pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, capaian tersebut masih sedikit di bawah estimasi konsensus Visible Alpha sebesar S$ 2,82 miliar.
Baca Juga: Bursa Asia Naik Kamis (21/5), Ditopang Kinerja Nvidia dan Penundaan Mogok Samsung
Kontribusi laba setelah pajak dari entitas asosiasi regional, termasuk Bharti Airtel di India dan Advanced Info Service (AIS) di Thailand, naik 11% menjadi S$ 1,96 miliar.
Sementara itu, unit bisnis Australia milik Singtel, Optus, mencatat kenaikan pendapatan operasional sebesar 2%.
Menurut Yuen, Airtel dan AIS menjadi kontributor utama yang menopang pertumbuhan grup sepanjang tahun buku 2026.
Singtel juga mengumumkan dividen final sebesar 10,3 sen Singapura per saham, lebih tinggi dibandingkan 10 sen Singapura per saham pada tahun sebelumnya.
Selain itu, perusahaan memaparkan rencana belanja modal untuk 2027 sebesar sekitar S$ 3 miliar.
Dari jumlah tersebut, sekitar S$ 1,2 miliar akan dialokasikan khusus untuk pengembangan pusat data dan kebutuhan terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).













