Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Di tengah situasi internasional yang penuh gejolak, dunia tidak membutuhkan krisis baru terkait Taiwan. Pernyataan itu disampaikan pemimpin partai oposisi terbesar Taiwan pada Rabu (1/4/2026), menjelang kunjungannya ke China, seraya menegaskan bahwa ia ingin mendorong rekonsiliasi.
Reuters melaporkan, Cheng Li-wun, ketua Partai Kuomintang (KMT), akan melakukan perjalanan ke China mulai Selasa selama enam hari atas undangan Presiden China Xi Jinping.
China memandang Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai bagian dari wilayahnya, dan dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan tekanan militer maupun politik terhadap pemerintahan Presiden Lai Ching-te. Beijing menilai Lai sebagai “separatis”. Namun Lai menegaskan hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka.
Dalam rapat mingguan partai di Taipei, Cheng mengatakan bahwa rakyat Taiwan tidak ingin negaranya menjadi salah satu titik konflik paling berbahaya di dunia.
“Apa yang kami dorong adalah perdamaian dan rekonsiliasi, termasuk rekonsiliasi antara partai pemerintah dan oposisi di dalam Taiwan, serta rekonsiliasi dan perdamaian lintas Selat Taiwan,” ujarnya.
“Tidak ada yang ingin melihat Selat Taiwan kembali jatuh ke dalam krisis militer yang tegang, ketika situasi internasional sudah begitu tidak stabil,” lanjutnya.
Kunjungan Cheng berlangsung di tengah kebuntuan pembahasan anggaran tambahan pertahanan senilai US$ 40 miliar. Parlemen Taiwan yang didominasi oposisi menahan usulan Lai yang didukung Amerika Serikat. KMT menyatakan mereka mendukung pertahanan, namun menolak memberikan “cek kosong”.
Baca Juga: Robert Kiyosaki Sebut Perang Iran Takkan Berakhir, Ini 6 Aset Teraman 2026 Menurutnya
Dewan Urusan Daratan (Mainland Affairs Council), lembaga pembuat kebijakan Taiwan terkait China, mengatakan pekan ini bahwa keinginan China untuk “menganeksasi” Taiwan tidak akan pernah berubah hanya karena adanya interaksi dengan partai politik tertentu atau tokoh tertentu.
Dorongan “Penyatuan Kembali” dari China
Sebelumnya pada Rabu di Beijing, Zhang Han, juru bicara Kantor Urusan Taiwan China, tidak memberikan rincian lebih lanjut soal perjalanan Cheng. Namun ia menyebut kunjungan itu akan mencakup Beijing, Shanghai, dan Provinsi Jiangsu di wilayah timur China.
Zhang mengatakan kepada wartawan bahwa kunjungan tersebut mencerminkan komitmen Partai Komunis China dan KMT untuk “mencari perdamaian”.
Sejak bulan lalu, dan sejak pecahnya perang di Timur Tengah, China kembali meningkatkan upayanya untuk meyakinkan Taiwan mengenai manfaat berada di bawah pemerintahan Beijing. China menyoroti isu keamanan energi dan bahkan menawarkan usulan “jalur transportasi cepat” melintasi Selat Taiwan.
“Penyatuan kembali secara damai akan menciptakan peluang besar bagi perkembangan ekonomi dan sosial Taiwan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas Taiwan. Inilah daya tarik terbesarnya,” kata Zhang dalam konferensi pers tersebut.
Tonton: Diplomasi Iran ke Indonesia! Dari JK, Megawati hingga Jokowi di Tengah Perang
Namun jajak pendapat di Taiwan selama ini berulang kali menunjukkan dukungan yang sangat kecil terhadap penerimaan kedaulatan Beijing melalui model “satu negara, dua sistem”.
China juga tidak pernah mencabut ancamannya untuk menggunakan kekuatan militer guna membawa Taiwan di bawah kendalinya.













