kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   25.000   0,96%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

Suku Bunga Global Naik, Saham dan Obligasi Kembali Tertekan


Jumat, 18 September 2026 / 19:34 WIB
Suku Bunga Global Naik, Saham dan Obligasi Kembali Tertekan
ILUSTRASI. Bank Sentral Jepang (BOJ) (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham dan obligasi global tertekan pada Jumat (18/9/2026), setelah sejumlah bank sentral utama memperketat kebijakan moneter untuk meredam inflasi di tengah tingginya risiko harga energi dan ketegangan geopolitik.

Bank of Japan (BOJ) menjadi bank sentral terakhir yang menaikkan suku bunga pada pekan ini. BOJ mengerek suku bunga acuannya ke 1,25%, level tertinggi dalam 31 tahun.

Meski telah diperkirakan pasar, kenaikan tersebut justru diikuti pelemahan yen. Dolar AS menguat 1,2% menjadi 157,82 yen setelah dua anggota dewan BOJ berbeda pendapat terhadap keputusan kenaikan suku bunga.

Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan fokus kebijakan telah bergeser karena inflasi yang mendasari mendekati target 2%. Mayoritas anggota dewan juga menilai kebijakan moneter masih akomodatif meski suku bunga telah dinaikkan.

Baca Juga: Harga Emas Turun 1,2% Usai Minyak Melonjak, Pasar Khawatir Suku Bunga Global Naik

Chris Scicluna, Kepala Riset Daiwa Capital Markets Europe, mengatakan pelemahan yen dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi Jepang dan membuka ruang bagi BOJ untuk melanjutkan pengetatan.

"Pelemahan yen dapat kembali memperburuk inflasi," ujar Scicluna.

Tekanan terhadap yen juga dipengaruhi langkah The Fed yang menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9/2026) dan mengambil sikap lebih agresif terhadap inflasi. Yen kini berada di jalur penurunan sekitar 2,6% terhadap dolar AS dalam sepekan, meski masih menguat 1,2% sepanjang September.

Suku bunga global menguat

Keputusan BOJ melengkapi rangkaian kebijakan bank sentral yang semakin hawkish. September mencatat kenaikan rata-rata suku bunga terbesar negara G10 sejak Juli 2023. Empat bank sentral telah menaikkan suku bunga, sementara lainnya membuka peluang pengetatan lebih lanjut.

Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga, tetapi mengisyaratkan kenaikan jika perang Iran berlangsung lebih lama. ECB dan bank sentral Australia juga melihat risiko inflasi yang lebih tinggi.

Baca Juga: Suku Bunga Acuan Naik, Investor Perlu Cermat Rebalancing Portofolio Saham

Di pasar komoditas, harga Brent sempat turun 2,8% menjadi US$101,92 per barel setelah muncul laporan China meminta Iran membantu meredam kelompok Houthi. Namun, harga minyak fisik masih sekitar US$120 per barel sehingga risiko inflasi energi tetap tinggi.

Saham Eropa turun sekitar 0,5%, sedangkan kontrak berjangka saham AS naik 0,2%-0,5%. Pasar obligasi relatif stabil setelah aksi jual tajam sepanjang pekan, dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,96% setelah sempat menembus 5%, level tertinggi sejak 2007.

Kondisi tersebut menunjukkan penurunan harga minyak belum cukup meredakan tekanan di pasar karena investor masih menghadapi prospek suku bunga tinggi, inflasi energi dan ketidakpastian geopolitik.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×