Suku Bunga Naik, Harga Hunian di Korea Selatan Anjlok

Rabu, 16 November 2022 | 14:00 WIB   Reporter: Diki Mardiansyah
Suku Bunga Naik, Harga Hunian di Korea Selatan Anjlok

ILUSTRASI. Mata uang Korea Selatan. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD


KONTAN.CO.ID - SEOUL. Per Oktober 2022, harga perumahan di Korea Selatan anjlok pada tingkat paling tajam, setidaknya selama 19 tahun belakangan. Mengutip Reuters pada Rabu (16/11), harga apartemen di Korea Selatan secara nasional turun 1,20% pada Oktober 2022 dari bulan sebelumnya. Menurut Dewan Real Estate Korea, penurunan bulanan tersebut adalah yang terbesar sejak November 2003.

Dengan menurunnya harga perumahan di Korea Selatan, Bank Sentral Korea Selatan semakin yakin untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga dalam beberapa minggu mendatang.

Penurunan harga perumahan di Korea Selatan lantaran kenaikan suku bunga hipotek yang terus mengurangi permintaan. Di ibu kota Seoul, harga apartemen turun sebesar 1,24%, terbesar sejak Desember 2008. Penurunan harga di Seoul memperpanjang kerugian selama sembilan bulan berturut-turut. Selama lima tahun terakhir, harga rumah di Seoul juga telah meningkat lebih dari dua kali lipat.

Indeks nasional untuk harga transaksi apartemen juga turun sebesar 7,13% selama periode Januari-September 2022, terbesar sejak tahun 2006.

Baca Juga: WTO Memperingatkan Risiko Resesi Bagi Beberapa Negara

Sementara itu, Bank of Korea diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 24 November 2022, setelah memberikan total kenaikan 250 basis poin sejak Agustus tahun 2021 untuk menahan laju inflasi.

Lonjakan biaya hidup di Korea Selatan telah mengikis pendapatan rumah tangga dan membuat prospek konsumsi ekonomi menjadi gelap di negara dengan tingkat ekonomi terbesar keempat di Asia ini. Pengeluaran pihak swasta di Korea Selatan menyumbang kira-kira setengah dari produk domestik bruto.

Analis memperkirakan hanya satu atau dua kenaikan suku bunga lagi oleh Bank of Korea untuk sisa tahun ini dan tahun 2023 untuk membawa terminal rate menjadi 3,25% atau 3,50%.

Citi dan Morgan Stanley mengatakan, kemungkinan siklus pengetatan Bank of Korea saat ini berakhir angka di 3,25% dalam seminggu terakhir karena meningkatnya tantangan pertumbuhan dan kekhawatiran tentang krisis kredit jangka pendek di pasar uang.

"Secara historis, pasar properti telah menjadi salah satu variabel terpenting bagi kebijakan moneter di Korea Selatan, karena erat kaitannya dengan utang rumah tangga negara, yang merupakan rasio tertinggi di dunia terhadap PDB," kata Moon Hong-cheol, seorang ekonom di DB Financial Investment.

Baca Juga: Harga Saham Melonjak, Pengembang Properti China Gencar Lakukan Penggalangan Dana

Sebagai informasi, menurut data 35 ekonomi utama dari Institute of International Finance, rasio utang rumah tangga PDB Korea Selatan mencapai 102,2% pada kuartal kedua.

"Pengetatan yang berlebihan akan mengakibatkan dampak yang tidak dapat diubah dan untuk soft-landing pasar properti, Bank Of Korea harus secara tepat mencerminkan kondisi pasar dalam mengambil kebijakan moneternya," tambah Moon dari DB Financial.

Suh Young-kyung, salah satu dari tujuh anggota dewan Bank Of Korea menyatakan, laju kenaikan suku bunga saat ini perlu dikurangi jika terjadi perlambatan ekonomi akibat krisis kredit lokal muncul.

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru