Suku Bunga The Fed hingga Data Ekonomi Bakal Menyetir Wall Street

Senin, 25 Juli 2022 | 18:41 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Suku Bunga The Fed hingga Data Ekonomi Bakal Menyetir Wall Street

ILUSTRASI. Bursa saham AS. Pergerakan Wall Street Akan Menanti Keputusahan The Fed, Rilis Kinerja Perusahaan Teknologi dan Data Ekonomi. REUTERS/Brendan McDermid

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pekan ini akan menjadi minggu yang sibuk bagi para pelaku pasar untuk mencermati arah pergerakan pasar ke depan. Investor saat ini sedang menanti arah suku bunga The Fed, rilis kinerja perusahaan teknologi dan data-data ekonomi penting lainnya. 

The Fed akan melakukan pertemuan pada 26-27 Juli. Bank sentral Amerika Serikat (AS) ini diperkirakan akan menaikkan kembali suku bunganya sebesar 75 basis poin (bps). 

Sementara beberapa emiten berkapitalisasi besar penghuni indeks S&P 500 dijadwalkan akan merilis laporan kinerja kuartal II pekan ini, diantaranya Microsft, Alphabet, Meta Platforms, Apple dan Amazon.

Pasar juga tengah menyoroti perkiraan awal PDB AS kuartal II yang akan dirilis pada Kamis (29/7). Pelaku pasar terus memperdebatkan apakah resesi sudah berlangsung. Ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh pada kecepatan tahunan 0,5% kuartal terakhir. 

Baca Juga: Penerbitan Obligasi AS Diprediksi Melambat Pekan Ini, Sebelum Kenaikan Bunga The Fed

Ketiga indeks utama AS mencatat kenaikan minggu lalu. Pada hari Selasa, 98% saham di benchmark S&P 500 menguat, terbesar sejak 26 Desember 2018, hari perdagangan pertama setelah penurunan pasar yang terjadi pada 24 Desember 2018, menurut data dari LPL Financial.

Keuntungan baru-baru ini telah mendorong indeks sekitar 6% sejak 16 Juni, memicu optimisme di antara beberapa investor bahwa penurunan pasar terburuk baru-baru ini telah berakhir. 

"Sementara luasnya agak tidak mengesankan selama reli pasar sejak level terendah Juni, hari-hari seperti Selasa persis seperti yang kita cari, dan bisa sangat membantu mengubah karakter pasar ini

Untuk lebih jelasnya, S&P 500 belum keluar dari masalah," kata ahli strategi LPL Scott Brown dikutip Bloomberg, Senin (25/7). 

Jika The Fed melanjutkan dengan kenaikan suku bunga tiga perempat poin akhir pekan ini, suku bunga dana akan bergerak dari mendekati 0% kurang dari lima bulan lalu ke kisaran 2,25%-2,5% — tingkat yang sejalan dengan sebagian besar perkiraan pejabat netral jangka panjang.

Ekonom utama Pendapatan Tetap PGIM Ellen Gaske mengatakan, The Fed telah memberi tahu bahwa mereka tidak mungkin berhenti mengerem sampai mereka melihat perubahan yang meyakinkan dalam lintasan pembacaan inflasi bulanan yang akan menandakan kemajuan menuju target 2% Fed.

“Kami berharap Powell kemungkinan akan mengulangi pesan itu pada konferensi pers pasca-pertemuannya.” ujarnya.

Baca Juga: Harga Emas Naik 1,14% Sepekan Setelah Turun Lima Minggu Berturut-turut

Namun, ia melihat kemungkinan terlalu dini bagi The Fed untuk menyampaikan sudut pandang yang jauh lebih ke depan, karena pembacaan inflasi terbaru masih menunjukkan tekanan harga yang tinggi dan meluas. Hanya saja menurutnya, setiap kenaikan tambahan suku bunga maka efek lambat dari langkah-langkah pengetatan Fed akan semakin penting untuk dipertimbangkan.

Bulan lalu, harga konsumen AS kembali berakselerasi pada laju tahunan tercepat sejak November 1981. Indeks Harga Konsumen (CPI) Biro Statistik Tenaga Kerja mencerminkan peningkatan tahun-ke-tahun sebesar 9,1% dalam pembacaan Juni, menandai cetakan tertinggi dari siklus inflasi.

Ekonom Goldman Sachs mengatakan dalam sebuah catatan pekan lalu bahwa ekspektasi inflasi terutama telah melunak sejak FOMC terakhir bertemu pada Juni, merujuk revisi ke bawah pada pembacaan akhir University of Michigan pada ekspektasi inflasi 5-10 tahun, penurunan angka survei awal Juli dan tren turun material  dalam ukuran inflasi berbasis pasar.

“Pelemahan ekspektasi inflasi ini adalah salah satu alasan mengapa kami memperkirakan FOMC tidak akan mempercepat laju kenaikan jangka pendek dan akan memberikan kenaikan 75bp pada pertemuan FOMC Juli,” kata ekonom Goldman yang dipimpin oleh Jan Hatzius.

Selain arah kebijakan The Fed dan rilis kinerja emiten, investor akan mengamati dengan cermat estimasi pertama produk domestik bruto pemerintah, ukuran terluas dari aktivitas ekonomi  untuk kuartal kedua, yang akan dirilis Kamis pagi.

Perkiraan GDP Now terbaru dari Federal Reserve Atlanta untuk PDB Q2 pada 19 Juli, menunjukkan ekonomi kemungkinan menyusut 1,6% kuartal terakhir. Jika terealisasi, penurunan ini akan menandai kuartal kedua berturut-turut pertumbuhan ekonomi negatif dan menegaskan kepada beberapa ahli strategi bahwa ekonomi telah memasuki resesi.

Baca Juga: Wall Street: S&P 500 dan Nasdaq Jatuh, Terseret Saham Media Sosial

Menurut data dari Bloomberg, ekonom Wall Street memperkirakan PDB tumbuh pada kecepatan tahunan 0,5% kuartal terakhir.

Di sisi pendapatan, kinerja emiten berkapitalisasi besar akan diawasi dengan ketat, meskipun ratusan nama lain akan menarik perhatian investor selama salah satu minggu tersibuk untuk hasil perusahaan tahun ini.

Selain kinerja untuk periode tiga bulan terakhir, komentar dari kelas berat teknologi tentang rencana perekrutan atau penyesuaian lain terhadap pandangan mereka terkait dengan hambatan ekonomi makro akan dilacak dengan cermat.

 

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru