kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.944   -29,00   -0,16%
  • IDX 5.999   115,16   1,96%
  • KOMPAS100 778   14,20   1,86%
  • LQ45 588   9,58   1,66%
  • ISSI 208   4,74   2,33%
  • IDX30 333   5,83   1,78%
  • IDXHIDIV20 409   6,49   1,62%
  • IDX80 88   1,57   1,82%
  • IDXV30 111   2,39   2,20%
  • IDXQ30 107   1,91   1,82%

Taliban mengincar hubungan kerja sama dengan Rusia hingga Pakistan


Senin, 06 September 2021 / 09:08 WIB
ILUSTRASI. Mullah Baradar Akhund, seorang pejabat senior Taliban, duduk bersama sekelompok pria, membuat pernyataan video, dalam gambar diam yang diambil dari video yang direkam di lokasi tak dikenal dan dirilis pada 16 Agustus 2021.


Sumber: TASS | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - KABUL. Di bulan pertamanya menguasai Afghanistan, kelompok Taliban mulai mengincar hubungan kerja sama dengan sejumlah negara, termasuk Rusia, Iran, dan Pakistan.

Dilansir dari TASS, Mohammad Akbar Agha yang merupakan komandan lapangan Taliban sekaligus pemimpin Dewan Keselamatan Tinggi Afghanistan, mengatakan bahwa Taliban membutuhkan kerja sama dengan negara-negara tersebut, begitu juga sebaliknya.

"Kami harus menjalin hubungan yang luas dengan Rusia, ada kepentingan antara Taliban dan Rusia. Iran dan Pakistan juga merupakan negara-negara yang ingin kami dekati. Mereka membutuhkan kami dan kami membutuhkan mereka," kata Agha.

Baca Juga: Rusia menyebut Kabul kini lebih aman di bawah kendali Taliban

Rusia, yang saat ini masih menganggap Taliban sebagai organisasi teroris, sempat mengakui bahwa kondisi Kabul menjadi lebih aman di bawah pengawasan Taliban dibanding dengan otoritas sebelumnya.

Secara umum, Rusia ingin memastikan bahwa ketidakstabilan di Afghanistan tidak meluas ke Asia Tengah, bagian dari bekas Uni Soviet yang dianggapnya sebagai halaman belakang sendiri. Rusia juga berusaha agar paham Taliban tidak menjadi landasan bagi kelompok-kelompok Islamis ekstrem lainnya.

Dalam kesempatan yang sama, Agha juga menyinggung hubungan Taliban dengan Amerika Serikat yang diakuinya semakin memburuk. Di sisi lain, Taliban tidak akan keberatan jika AS membuka kembali kedutaannya di Afghanistan.

"Sebelum invasi, Afghanistan dan AS memiliki kemungkinan untuk menjalin hubungan baik. Tapi setelah invasi dan kejahatan yang mereka lakukan, hubungan kami memburuk," ungkapnya.

Baca Juga: Rusia dan China sepakat bersatu untuk lindungi Afghanistan




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×