kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45893,43   -4,59   -0.51%
  • EMAS1.333.000 0,53%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Tergelincir ke jurang resesi, ekonomi Jepang diramal akan memburuk karena pandemi


Senin, 18 Mei 2020 / 11:00 WIB
Tergelincir ke jurang resesi, ekonomi Jepang diramal akan memburuk karena pandemi


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Perekonomian Jepang tergelincir ke dalam jurang resesi untuk pertama kalinya dalam 4,5 tahun terakhir. Kondisi ini menempatkan Jepang ke jalur kemerosotan terdalam pascaperang ketika krisis virus corona menghancurkan bisnis dan daya beli konsumen.

Melansir Reuters, data PDB Jepang pada kuartal pertama menggarisbawahi dampak meluasnya wabah, di mana tingkat ekspor mengalami keanjlokan terbesar sejak gempa bumi Maret 2011 akibat penguncian global.

Analis memperingatkan, gambaran yang lebih suram untuk kuartal saat ini karena melorotnya tingkat konsumsi setelah pemerintah pada bulan April meminta warga untuk tinggal di rumah dan bisnis ditutup. Hal ini mengintensifkan tantangan bagi pembuat kebijakan dalam memerangi pandemi.

Baca Juga: Jepang cabut keadaan darurat corona, kecuali di Tokyo dan Osaka

"Sudah hampir pasti bahwa ekonomi mengalami penurunan yang lebih dalam pada kuartal  ini. Jepang telah memasuki masa resesi besar-besaran," kata Yuichi Kodama, kepala ekonom di Meiji Yasuda Research Institute kepada Reuters.

Data produk domestik bruto (PDB) resmi menunjukkan, negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia itu mengalami penurunan tahunan 3,4% pada kuartal pertama, lebih rendah dari perkiraan pelaku pasar rata-rata yang memprediksi penurunan 4,6%.

Baca Juga: Jepang susun anggaran ekstra kedua untuk memerangi dampak wabah corona

Pada periode Oktober-Desember, kemerosotan diprediksi akan lebih curam lagi mencapai7,3%. Dengan dua kuartal mengalami kontraksi berturut-turut, hal ini memenuhi definisi teknis dari resesi. Terakhir kali Jepang mengalami resesi adalah di paruh kedua 2015.

Virus Corona, yang pertama kali muncul di China akhir tahun lalu, telah merusak perekonomian global karena banyak negara melakukan penguncian ketat untuk mengekang wabah yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 310.000 orang di seluruh dunia. Pandemik telah secara besar-besaran mengganggu rantai pasokan dan bisnis, terutama di negara-negara yang bergantung pada perdagangan ekspor seperti Jepang.

Memang, dampak virus pada perusahaan Jepang cukup parah di mana tingkat ekspor anjlok 6% pada kuartal pertama. Ini merupakan penurunan terbesar sejak April-Juni 2011.

Guncangan dalam perdagangan global digarisbawahi dalam data Maret baru-baru ini, di mana tingkat ekspor mengalami penyusutan terbesar dalam hampir empat tahun karena jatuhnya pengiriman yang terkait dengan AS.

Bahkan sejumlah pabrikan besar di negara itu juga tidak bisa menghindar dari pandemi. 

Baca Juga: Jepang mengkaji stimulus lain untuk menopang ekonomi yang hancur akibat virus corona

Toyota Motor Corp mengatakan pada hari Jumat akan memangkas produksi kendaraan dalam negeri sebesar 122.000 unit pada bulan Juni karena kurangnya permintaan. Produsen mobil tersebut memprediksi penurunan laba operasional hingga 80% dalam periode setahun penuh, dan merupakan yang terendah dalam sembilan tahun.

Kemuraman ekonomi di Jepang diperkirakan akan semakin buruk dalam beberapa bulan mendatang.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan ekonomi Jepang akan menyusut 22,0% secara tahunan pada kuartal saat ini, yang akan menjadi penurunan terbesar dalam catatan sejarah, dengan tekanan pada output semakin meningkat setelah Perdana Menteri Shinzo Abe pada bulan April mengumumkan keadaan darurat nasional di tengah peningkatan coronavirus infeksi.

Baca Juga: Aktivitas sektor jasa Jepang melorot ke rekor terendah pada April akibat virus corona

Memang, kondisi darurat sudah dicabut untuk sebagian besar wilayah di Jepang pada hari Kamis. Akan tetapi, tetap berlaku untuk beberapa kota besar termasuk Tokyo.

Konsumsi swasta, yang menyumbang lebih dari setengah dari perekonomian Jepang yang bernilai US$ 5 triliun, tergelincir 0,7% pada Januari-Maret. Angka ini lebih rendah dari perkiraan pasar yang meramal penurunan 1,6%, akibat permintaan yang kuat untuk makanan dan kebutuhan sehari-hari yang berhasil mengimbangi dampak pada pengeluaran layanan.




TERBARU

[X]
×