kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 0   0   %

Teror Hantui para Korban Epstein, Mulai Ancaman Pembunuhan hingga Penguntitan


Senin, 08 Juni 2026 / 17:19 WIB
Teror Hantui para Korban Epstein, Mulai Ancaman Pembunuhan hingga Penguntitan
ILUSTRASI. Jeffrey Epstein: Filthy Rich (Dok./Netflix)

Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  Kasus kejahatan seksual yang dilakukan mendiang predator seks Jeffrey Epstein ternyata belum berakhir bagi para korbannya. 

Setelah berani membuka identitas dan bersuara ke publik, puluhan perempuan yang mengaku menjadi korban Epstein justru menghadapi gelombang intimidasi, ancaman, hingga perundungan yang mengubah kehidupan mereka.

Investigasi Reuters menemukan sedikitnya 23 perempuan korban Epstein mengalami teror setelah identitas mereka terungkap, baik karena tampil di ruang publik maupun akibat kesalahan penghapusan data pribadi dalam dokumen kasus Epstein yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ).

Salah satunya adalah Marina Lacerda. Perempuan yang mengaku dilecehkan Epstein saat berusia 14 tahun itu kini tinggal di kawasan berpagar dan tidur dengan pistol di samping tempat tidurnya karena khawatir keselamatannya terancam.

"Saya takut ada seseorang yang masuk ke rumah. Saya hidup dalam ketakutan sepanjang waktu," kata Lacerda.

Baca Juga: Melania Trump Bantah Keterkaitan dengan Epstein, Minta Akhiri “Kebohongan”

Menurut Reuters, bentuk intimidasi yang dialami para korban sangat beragam. Mulai dari ancaman pembunuhan di media sosial, pelecehan verbal, penguntitan, hingga penyebaran informasi pribadi seperti alamat rumah, nomor telepon, dan tanggal lahir.

Beberapa korban mengaku melihat orang asing memotret rumah mereka. Ada pula yang menerima telepon dari pihak tak dikenal yang mengaku mengetahui lokasi tempat tinggal mereka. 

Akibatnya, sebagian korban memilih membatasi aktivitas di luar rumah dan selalu waspada terhadap lingkungan sekitar.

Sorotan mengarah ke Departemen Kehakiman AS setelah jutaan halaman dokumen terkait Epstein yang dirilis pada akhir 2025 dan awal 2026 diketahui memuat sejumlah informasi pribadi korban yang tidak disamarkan dengan sempurna. 

Firma hukum yang mewakili ratusan korban menyebut setidaknya terdapat ribuan kemunculan data pribadi korban dalam dokumen tersebut.

Departemen Kehakiman mengakui terjadi kesalahan penyuntingan data dan menyatakan telah berupaya memperbaikinya begitu menerima laporan. 

Pejabat sementara Jaksa Agung AS Todd Blanche bahkan mengakui lembaganya gagal melindungi korban ketika identitas mereka terungkap.

Baca Juga: Bukan Cuma Hantu, 7 Film Horor Thailand Ini Punya Plot Twist Tak Terduga

"Setiap kali nama korban terungkap dan seharusnya tidak dipublikasikan, itu berarti kami telah gagal sebagai Departemen Kehakiman," ujar Blanche dalam kesaksiannya di Kongres.

Sejumlah korban mengatakan ancaman yang mereka terima semakin intens setelah dokumen-dokumen tersebut dipublikasikan. 

Danielle Bensky, yang mengaku menjadi korban Epstein saat remaja, menerima pesan ancaman kekerasan seksual melalui media sosial setelah identitas dan data pribadinya muncul dalam dokumen yang tidak disensor dengan benar.

Korban lain, Maria Farmer, yang menjadi salah satu perempuan pertama yang secara terbuka menuduh Epstein dan Ghislaine Maxwell melakukan pelecehan seksual, mengaku hidupnya berubah drastis akibat serangan daring dan intimidasi yang terus berlangsung selama bertahun-tahun.

Kasus ini juga memicu gugatan hukum terhadap Departemen Kehakiman dan perusahaan teknologi Google. 

Penggugat menilai publikasi dokumen yang memuat data pribadi korban telah melanggar privasi dan membuka peluang terjadinya ancaman terhadap keselamatan mereka.

Baca Juga: Jejak Relasi Jeffrey Epstein: Ini Daftar Politikus dan Miliarder yang Terkait

Meski menghadapi risiko besar, banyak korban tetap memilih bersuara untuk mendorong pertanggungjawaban atas kejahatan Epstein dan jaringan yang diduga melindunginya. Namun harga yang harus dibayar tidak sedikit. 

Sebagian kini memasang kamera keamanan, membawa alat pertahanan diri, bahkan mengganti identitas pada dokumen kepemilikan properti demi menghindari pelacakan.

Bagi mereka, perjuangan mencari keadilan belum berakhir ketika Epstein meninggal dunia pada 2019. Justru setelah berbicara, ancaman baru muncul dan terus membayangi kehidupan sehari-hari para korban.



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

×