kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Tertekan Gelombang Panas dan Pembatasan Covid, Indeks Harga Konsumen China Melambat


Jumat, 09 September 2022 / 09:49 WIB
ILUSTRASI. Seorang staf meletakkan makanan laut di sebuah supermarket menyusul penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) di Beijing, China, Rabu (11/11/2020). REUTERS/Thomas Peter


Sumber: Reuters | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Indeks harga konsumen China melambat pada bulan Agustus di tengah sengatan gelombang panas dan gejolak COVID-19. Sementara tingkat inflasi di tingkat produsen turun ke level terendah sejak Februari 2021.

Data dari Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan Indeks harga konsumen (CPI) China naik 2,5% secara tahunan, alias melambat dari posisi Juli yang naik 2,7%. Angka tersebut juga meleset dari perkiraan median analis yang memprediksi kenaikan 2,8% pada jajak pendapat Reuters.

Sementara harga di tingkat produsen naik 2,3% secara tahunan pada Agustus yang menjadi laju paling lambat sejak Februari 2021.

Data terbaru menunjukkan ekonomi terbesar kedua di dunia yang sudah tertekan oleh lesunya pasar properti dan pembatasan COVID-19 yang ketat ini, semakin kehilangan momentum pada Agustus.

Baca Juga: Siapakah Orang Paling Kaya di Singapura? Ini Daftar 5 Besar versi Forbes 2022

Sementara inflasi IHK yang mendekati target pemerintah sekitar 3,0%, masih lebih rendah dari inflasi yang terlihat di negara-negara besar lainnya.

People's Bank of China (PBoC) memperingatkan pada bulan Agustus lalu bahwa China menghadapi tekanan inflasi struktural yang meningkat dan inflasi IHK mungkin melebihi 3% dalam beberapa bulan di paruh kedua tahun ini.

Tetapi analis mengatakan kenaikan inflasi konsumen dapat membatasi ruang lingkup pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut di China.

"Risiko keuangan potensial (boikot hipotek dan skandal bank pedesaan) dapat memaksa PBoC untuk tetap akomodatif, dengan likuiditas yang sesuai untuk melindungi risiko," tulis analis Barclays dalam risetnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×