kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,94   -3,77   -0.38%
  • EMAS988.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

The Fed Siap Lebih Agresif, Bursa Saham Global Justru Reli


Rabu, 18 Mei 2022 / 15:45 WIB
The Fed Siap Lebih Agresif, Bursa Saham Global Justru Reli
ILUSTRASI. Bursa saham di Asia bergerak naik pada perdagangan Rabu (18/5), menyusul reli bursa saham AS pada hari Selasa.


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham di Asia bergerak naik pada perdagangan Rabu (18/5), menyusul reli bursa saham Amerika Serikat (AS) pada hari Selasa.

Investor tampaknya sebagian besar mengabaikan pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang hawkish pada konferensi Wall Street Journal pada Selasa (17/5), yang mengatakan bahwa pembuat kebijakan The Fed sepakat melakukan peningkatan suku bunga agresif pada Juni dan Juli untuk meredam inflasi.

Indeks saham Asia-Pasifik MSCI naik untuk hari keempat dan mencatat rekor kenaikan terpanjang sejak Februari 2022.  Namun, obligasi AS berada di bawah tekanan setelah pernyatan Powel bahwa The Fed tidak akan ragu memperketat kebijakan di atas netral.

Wall Street ditutup melonjak pada perdagangan Selasa (17/5) seiring dengan reli saham teknologi dan rebound sejumlah sektor. Bursa AS berhasil rebound dari tekanan hebat pada pekan lalu.  Dow Jones melonjak 1,34%, S&P 500 Index naik 2,02 % dan Nasdaq menguat 2,76%.

Baca Juga: Wall Street Menghijau: Dow Menguat 400, Pasar Kembali dari Posisi Terendah Tahun Ini

Ketidakpastian terkait kecepatan dan besarnya siklus kenaikan suku bunga The Fed telah memicu tekanan di seluruh pasar yang telah bertahan sepanjang tahun.

Pada tahun 2022 sejauh ini, indeks S&P 500 telah turun sekitar 15%, Dow turun sekitar 11%, Nasdaq telah jatuh lebih dalam ke pasar bearish yakni lebih dari 20% di bawah rekor harga penutupan di bulan November 2021.

Namun, rebound bursa saham dalam sentimen risiko dinilai rapuh di tengah pengetatan pengaturan moneter, perang Rusia di Ukraina dan penguncian Covid-19 di China.

“Kita akan menghadapi volatilitas seperti ini saat orang-orang melompat dan melihat peluang untuk membeli saat pasar menurun,” kata Shana Sissel, Direktur Investasi Cope Corrales seperti dikutip Bloomberg, Rabu (18/5). Sementara The Fed menurutnya akan berjuang untuk mencapai pendaratan ekonomi yang lunak.

Henry Peabody, Manajer Portofolio Pendapatan Tetap di MFS Investment Management mengatakan, kondisi saat ini merupakan salah satu pasar paling menantang yang pernah ia hadapi sepanjang perjalanan karirnya.  “Saya menduga pada titik waktu tertentu kita akan menghadapi tantangan likuiditas pasar," ujarnya.

Setelah jatuh pada kuartal kedua 2020, pertumbuhan ekonomi AS telah pulih dan melonjak 5,7% di tahun lalu. Meskipun ada kontraksi pertumbuhan ekonomi dalam tiga bulan pertama tahun ini, inflasi atau harga konsumen masih melonjak 8,5% dalam 12 bulan yang berakhir pada Maret 2022.

Untuk menjinakkan laju inflasi, sejauh ini The Fed sudah mengerak suku bunga sebanyak dua kali di 2022. Bank sentral AS masih akan mencermati pertumbuhan ekonomi dan adanya bukti yang jelas bahwa inflasi melambat untuk memutuskan kebijakan lanjut terkait suku bunga.

"Bankir sentral AS perlu melihat bukti yang jelas dan meyakinkan bahwa tekanan inflasi mereda. Jika kami tidak melihat itu, maka kami harus mempertimbangkan untuk bergerak lebih agresif," kata Powell.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi AS Tak Melambat, The Fed Siap Bergerak Lebih Agresif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Modeling & Corporate Valuation Fundamental Supply Chain Planner Development Program (SCPDP)

[X]
×