kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.899   17,00   0,10%
  • IDX 9.047   14,25   0,16%
  • KOMPAS100 1.252   3,95   0,32%
  • LQ45 887   5,04   0,57%
  • ISSI 329   -0,65   -0,20%
  • IDX30 452   2,81   0,63%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 139   0,42   0,30%
  • IDXV30 147   0,53   0,36%
  • IDXQ30 145   1,13   0,79%

Trump Akui Ambisi Miliki Greenland Penting Secara Psikologis Baginya


Kamis, 15 Januari 2026 / 07:32 WIB
Trump Akui Ambisi Miliki Greenland Penting Secara Psikologis Baginya
ILUSTRASI. Trump mengungkap alasan di balik ambisi kepemilikan Greenland, menyebutnya 'penting secara psikologis' bagi dirinya. (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: People | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan dalam wawancara terbaru dengan The New York Times bahwa ambisinya untuk memiliki Greenland sepenuhnya merupakan sesuatu yang “penting secara psikologis” baginya.

Dalam wawancara selama dua jam dengan sejumlah jurnalis The New York Times pada 7 Januari, Trump ditanya mengapa ia tidak sekadar mengirim lebih banyak pasukan AS ke Greenland, sesuatu yang sebenarnya sah berdasarkan perjanjian era Perang Dingin, jika tujuannya hanya untuk menangkal ancaman asing. Trump menjawab bahwa ia tidak akan merasa tenang kecuali benar-benar memiliki pulau tersebut.

“Kenapa kepemilikan itu penting dalam kasus ini?” tanya koresponden keamanan nasional The New York Times, David E. Sanger.

“Karena secara psikologis, itu yang saya rasa dibutuhkan untuk meraih keberhasilan,” jawab Trump, yang kini berusia 79 tahun. 

Dia menambahkan, “Saya pikir kepemilikan memberi Anda sesuatu yang tidak bisa didapat dari sekadar sewa atau perjanjian. Kepemilikan memberi Anda kelebihan dan elemen yang tidak bisa diperoleh hanya dengan menandatangani dokumen, meskipun Anda bisa punya pangkalan.”

Baca Juga: Bea Cukai China: Chip Nvidia H200 Tidak Diizinkan Masuk Tiongkok

Koresponden Gedung Putih Katie Rogers, yang baru-baru ini dihina Trump sebagai “jelek, luar dan dalam” karena menulis artikel soal usianya, ikut bertanya, “Penting secara psikologis untuk Anda, atau untuk Amerika Serikat?”

“Penting secara psikologis untuk saya,” jawab Trump. “Mungkin presiden lain akan berpikir berbeda, tapi sejauh ini saya benar soal segalanya.”

Melansir People, Trump juga mengatakan kepada The New York Times bahwa ia tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan nuklir jika “memang diperlukan” untuk mengambil alih pulau Arktik tersebut. Namun, ia mengakui langkah itu “bisa membuat NATO marah”, mengingat Greenland merupakan wilayah otonom milik Denmark, negara anggota NATO.

Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara menyebutkan bahwa serangan bersenjata terhadap satu anggota NATO dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Karena itu, Senator Chris Murphy dari Connecticut mengatakan kepada acara Meet the Press di NBC News bahwa jika AS mengambil alih Greenland, itu akan menjadi akhir dari NATO.

Trump sendiri terus berulang kali melontarkan gagasan mengambil alih Greenland, wilayah yang kaya minyak dan sumber daya mineral yang belum tergarap, sejak kembali ke Gedung Putih. Isu ini bahkan nyaris menjadi bahan perbincangan harian sejak awal tahun.

“Kami akan melakukan sesuatu terhadap Greenland, apakah mereka suka atau tidak suka,” kata Trump kepada wartawan pada 9 Januari. “Karena kalau kami tidak melakukannya, Rusia atau China akan mengambil alih Greenland, dan kami tidak mau Rusia atau China menjadi tetangga kami.”

Baca Juga: Trump Memberlakukan Tarif 25% untuk Impor Beberapa Chip Komputasi Canggih

Pernyataan tersebut mendapat respons keras dari China. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China dalam konferensi pers menuding Trump menggunakan negara lain sebagai alasan untuk mengejar kepentingan pribadinya sendiri.

Sementara itu, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyampaikan tanggapan melalui Facebook pada akhir pekan lalu, menyikapi meningkatnya ancaman dari Amerika Serikat dan menegaskan bahwa “gagasan tentang kebebasan” tidak boleh dikompromikan.

“Amerika Serikat dan Eropa berakar pada gagasan tentang kebebasan. Kita tidak boleh mengorbankan hal itu,” tulis Frederiksen. “Perbedaan pendapat dan konflik antara Amerika Serikat dan Eropa hanya akan menguntungkan musuh-musuh kita. Itu melemahkan kita dan memperkuat mereka.”

“Denmark adalah sekutu yang setia dan kuat. Kami tengah menjalankan program persenjataan ulang yang signifikan dan siap mempertahankan nilai-nilai kami, di mana pun diperlukan, termasuk di kawasan Arktik,” lanjutnya. 

Tonton: Hotman Paris Pasang Badan Bela Timothy Ronald: Tidak Ada Penipuan!

“Kami percaya pada hukum internasional dan hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri. Karena itu, kami menjunjung prinsip kedaulatan, penentuan nasib sendiri, dan keutuhan wilayah.”

Selanjutnya: Proyeksi Rupiah untuk Hari Ini (15/1): Rentang Rp 16.860-Rp 16.890

Menarik Dibaca: Konten AI YouTube 10 Menit: Raih Cuan Cepat Pakai 3 Alat Sakti Ini




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×