Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa memorandum kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran “sebagian besar sudah dinegosiasikan” dan berpotensi membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di tengah meningkatnya harapan bahwa terobosan diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan antara AS, Israel, dan Iran akan segera tercapai.
Baca Juga: Trump Klaim Kesepakatan Perdamaian Iran Hampir Final, Selat Hormuz Akan Dibuka
Melalui platform Truth Social, Trump mengatakan rincian akhir kesepakatan masih dalam tahap pembahasan dan akan diumumkan dalam waktu dekat.
“Final aspects and details of the Deal are currently being discussed, and will be announced shortly,” tulis Trump dilansir Reuters, Sabtu (24/5/2026).
Selat Hormuz Jadi Fokus Utama Kesepakatan
Dalam rancangan memorandum tersebut, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu poin utama.
Jalur pelayaran strategis itu sebelumnya terganggu akibat perang dan ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melintas.
Baca Juga: Trump Sibuk Promosikan Ballroom Gedung Putih di Tengah Tekanan Ekonomi AS
Berbagai media di AS dan Iran melaporkan bahwa kerangka kesepakatan mencakup penghentian pertempuran, pencabutan blokade AS terhadap pengiriman Iran, serta normalisasi kembali lalu lintas energi global.
Selain itu, isu stok uranium Iran yang diperkaya mendekati level senjata nuklir juga akan dinegosiasikan dalam waktu 30 hingga 60 hari ke depan.
Harapan Meredakan Krisis Energi Global
Potensi tercapainya kesepakatan damai dipandang dapat memberi sentimen positif bagi pasar global, terutama sektor energi yang selama beberapa bulan terakhir mengalami tekanan berat.
Harga minyak mentah Brent saat ini masih berada di kisaran US$ 103,50 per barel atau naik sekitar 43% dibandingkan sebelum perang pecah pada Februari lalu.
Baca Juga: Uber Bidik Delivery Hero, Persaingan Layanan Antar Memanas
Kendati demikian, pemulihan penuh arus energi melalui Selat Hormuz diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu cepat.
CEO Abu Dhabi National Oil Company sebelumnya menyebut normalisasi penuh kemungkinan baru tercapai pada 2027.
AS Disebut Akan Longgarkan Sanksi Iran
Laporan media AS menyebut rancangan kesepakatan juga memuat komitmen Washington untuk melonggarkan sebagian sanksi minyak Iran dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Sebagai imbalannya, Iran disebut akan berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Meski demikian, Iran tetap menegaskan bahwa program pengayaan uranium mereka bertujuan sipil dan bukan untuk pengembangan senjata.
Baca Juga: China Kirim Astronaut Setahun Penuh Demi Kejar Ambisi Bulan
Masih Ada Perbedaan Sikap
Di balik optimisme tersebut, sejumlah perbedaan masih membayangi proses negosiasi. Kantor berita Tasnim di Iran melaporkan masih terdapat satu hingga dua klausul yang belum disepakati.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, tren perundingan memang mengarah pada pengurangan konflik, namun sejumlah isu penting masih harus dibahas melalui mediator.
Iran juga menekankan bahwa pembukaan penuh Selat Hormuz tetap bergantung pada implementasi komitmen AS, termasuk penghentian ancaman serangan baru dan pencairan sebagian dana Iran yang dibekukan akibat sanksi internasional.
Baca Juga: Trump Klaim Kesepakatan Damai Iran Sudah Dekat, Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali
Israel Soroti Risiko Keamanan Lebanon
Di sisi lain, perkembangan negosiasi ini turut memunculkan kekhawatiran di Israel, terutama terkait kemungkinan gencatan senjata di Lebanon.
Politikus Israel Benny Gantz menyebut, penghentian operasi militer di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan Iran dapat menjadi kesalahan strategis bagi keamanan Israel.
Media Israel juga melaporkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berbicara dengan Trump dan meminta kebebasan bertindak terhadap ancaman keamanan, termasuk di Lebanon.
Trump sendiri hanya menyebut percakapannya dengan Netanyahu berlangsung “sangat baik”.
Baca Juga: Ledakan Tambang Batubara di China Tewaskan 82 Orang, Tragedi Terburuk dalam 17 Tahun
Negosiasi Masih Berlanjut
Sumber Reuters menyebut kerangka kesepakatan akan berlangsung dalam tiga tahap, yakni penghentian resmi perang, penyelesaian krisis Selat Hormuz, serta dimulainya negosiasi lebih luas selama 30 hari yang dapat diperpanjang.
Pakistan disebut memainkan peran penting sebagai mediator dalam proses tersebut.
Meski ada perkembangan positif, Iran tetap mengingatkan bahwa militernya telah membangun kembali kekuatan selama masa gencatan senjata.
Ketua negosiator Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa jika perang kembali dimulai, konsekuensinya akan lebih besar dibandingkan fase awal konflik.












