Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tidak puas dengan proposal terbaru dari Iran terkait upaya penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama dua bulan. Penolakan ini memperkecil peluang tercapainya resolusi damai, di tengah gangguan pasokan energi global, lonjakan inflasi, dan meningkatnya korban jiwa.
Seorang pejabat AS menyebut proposal Iran mengusulkan agar pembahasan mengenai program nuklir ditunda hingga perang berakhir serta sengketa terkait jalur pelayaran di kawasan Teluk terselesaikan. Namun, pendekatan tersebut dinilai tidak sejalan dengan posisi Washington yang menuntut agar isu nuklir menjadi bagian utama sejak awal negosiasi.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan bernegosiasi melalui media dan telah memiliki “garis merah” yang jelas dalam upaya mengakhiri konflik yang dimulai sejak Februari bersama Israel.
Ketegangan Diplomatik dan Upaya Mediasi
Upaya diplomasi untuk meredakan konflik juga mengalami kemunduran. Rencana kunjungan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, ke Islamabad dibatalkan. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi aktif melakukan diplomasi dengan mengunjungi sejumlah negara, termasuk Oman dan Rusia.
Baca Juga: Taylor Swift Ajukan Hak Merek untuk Lindungi Suara dan Citra dari Deepfake AI
Di Moskow, Araqchi bertemu Presiden Vladimir Putin dan memperoleh dukungan dari sekutu lama Iran tersebut. Namun, perbedaan mendasar antara kedua pihak membuat prospek negosiasi tetap suram.
Harga Minyak Naik, Pasokan Terganggu
Ketegangan yang belum mereda mendorong harga minyak kembali naik di pasar global. Para pelaku pasar kini lebih memperhatikan kondisi nyata pasokan minyak, terutama arus distribusi melalui Selat Hormuz, dibandingkan sekadar retorika politik.
Data pelacakan kapal menunjukkan setidaknya enam tanker yang membawa minyak Iran terpaksa kembali ke negara asal akibat blokade Amerika Serikat. Kondisi ini mempertegas dampak konflik terhadap perdagangan energi global.
Sebelum perang, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun, dalam satu hari terakhir, hanya tujuh kapal yang tercatat melintas, dan tidak satu pun membawa minyak untuk pasar global.
Pemerintah Iran mengecam tindakan penyitaan kapal oleh AS sebagai bentuk “legalisasi pembajakan dan perampokan bersenjata di laut lepas”.
Tekanan Politik terhadap Trump
Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan politik yang meningkat seiring turunnya tingkat persetujuan publik. Konflik yang berkepanjangan dan dampaknya terhadap harga energi menjadi beban politik, terutama menjelang dinamika politik domestik yang semakin ketat.
Baca Juga: Dampak Perang Timur Tengah, Thailand Pangkas Proyeksi Ekonomi Jadi 1,6% dari 2%
Araqchi bahkan menyatakan bahwa permintaan negosiasi datang dari pihak AS karena belum mencapai tujuan strategisnya dalam konflik ini.
Skema Proposal Iran
Menurut sumber pejabat Iran, proposal yang diajukan mencakup pendekatan bertahap. Tahap awal mencakup penghentian perang antara AS-Israel dengan Iran serta jaminan bahwa konflik tidak akan kembali terjadi.
Selanjutnya, negosiasi akan membahas penghentian blokade laut oleh Angkatan Laut AS serta masa depan pengelolaan Selat Hormuz, yang ingin dibuka kembali oleh Iran di bawah kendalinya.
Baru setelah itu, pembahasan akan mencakup isu lain, termasuk program nuklir Iran—yang selama ini menjadi sumber ketegangan dengan Barat. Iran tetap menginginkan pengakuan atas haknya untuk memperkaya uranium.













