kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45756,38   -11,60   -1.51%
  • EMAS1.009.000 -1,46%
  • RD.SAHAM -0.70%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

UBS hingga Morgan Stanley potong bonus gaji karyawan tahun lalu, kenapa?


Kamis, 23 Januari 2020 / 21:20 WIB
UBS hingga Morgan Stanley potong bonus gaji karyawan tahun lalu, kenapa?
ILUSTRASI. Logo Morgan Stanley. REUTERS/Mike Blake/File Photo

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bank-bank global termasuk Morgan Stanley dan Grup UBS dikabarkan telah memangkas bonus bankir investasi di kawasan Asia setelah kesepakatan mereda. Adapun, melansir Bloomberg, Kamis (23/1) karyawan senior disebut menerima pukulan paling besar, menurut sumber Bloomberg.

Tercatat, jumlah bonus upah karyawan perbankan di unit investasi kecuali di kawasan Asia kecuali Jepang memang mengalami penurunan sekitar 14% di akhir tahun lalu. Pun, Morgan Stanley juga disebut telah memangkas bonus sebesar 9% lebih rendah pada tahun lalu.

Baca Juga: Setelah Wuhan, China isolasi Kota Huanggang demi cegah virus corona

Hal serupa juga terjadi pada Citigroup Inc yang pada kuartal IV 2019 mencatatkan kinerja terbaik sejak tahun 2017, juga mengurangi bonus karyawan sekitar 6% untuk mengurangi biaya, menurut pihak internal yang tak mau disebutkan identitasnya.

Goldman Sachs Group Inc di sisi lain memilih untuk mempertahankan pemberian bonus alias stagnan secara tahunan. Meski begitu, hal ini tetap meningkatkan jumlah pengeluaran cukup besar bagi bankir-bankir dengan kinerja positif.

Adapun, dari sisi penjualan saham di tahun lalu Goldman memang lebih sedikit di kawasan Asia kecuali Jepang, atau berada di peringkat kelima di bawah Morgan Stanley dan Citigroup, menurut data Bloomberg.

Posisi Goldman juga turun di peringkat kedua dari sisi jasa penasehat merger dan akuisisi pada tahun 2019. Setelah sebelumnya menduduki peringkat teratas di tahun 2018 silam.

Baca Juga: Imigrasi disarankan deportasi jurnalis Mongabay karena langgar izin tinggal

Kawasan Asia memang telah berjuang untuk mempertahankan ekonomi agar tetap stabil. Hal ini sebagian disebabkan pertumbuhan ekonomi China yang melambat ke level terendah sejak tiga dekade akibat sempat memanasnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang dibarengi dengan pengetatan likuiditas bank.

Walhasil, jumlah kesepakatan investasi di Asia pun menurun di tahun lalu. Misalnya saja, nilai merger Asia kecuali Jepang turun sebanyak 9% secara year on year (yoy) sementara saham yang dijual di wilayah ini menunjukkan jumlah terendah sejak tahun 2013 bila mengacu data Bloomberg. Tekanan dari sisi biaya operasional pun terjadi di tahun lalu, yang diperkirakan masih akan berlanjut tahun ini.

Grup UBS pun mencatatkan kinerja buruk tahun lalu karena banyak penjualan saham atau ekuitas tersendat di wilayah Hong Kong, yang merupakan pasar penawaran umum perdana tersibuk di dunia. Pemberi pinjaman yang berbasis di Zurich ini juga telah memangkas biaya operasional dan merestrukturisasi bisnisnya sebagai bagian dari perubahan pola bisnis global.



TERBARU

[X]
×