kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45786,44   -4,02   -0.51%
  • EMAS1.008.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.26%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.06%

Uji coba kelar, Pfizer akan ajukan permohonan penggunaan darurat vaksin corona


Sabtu, 17 Oktober 2020 / 08:00 WIB
Uji coba kelar, Pfizer akan ajukan permohonan penggunaan darurat vaksin corona
ILUSTRASI. Logo Pfizer di kantor pusat perusahaan obat ini di New York, AS.


Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pfizer Inc akan mengajukan permohonan penggunaan darurat di Amerika Serikat (AS) untuk kandidat vaksin virus corona baru yang sedang mereka kembangkan bersama BioNTech SE Jerman.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengatakan, mereka menginginkan setidaknya dua bulan data keamanan sebelum mengizinkan penggunaan darurat dari vaksin virus corona eksperimental.

"Berdasarkan pendaftaran uji coba dan kecepatan pemberian dosis saat ini, Pfizer mengharapkan, data keamanan tersebut tersedia pada minggu ketiga November," kata Chief Executive Officer Pfizer Albert Bourla dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Reuters.

Pfizer sebelumnya mengatakan, mereka mengharapkan data uji coba tahap akhir vaksin virus corona akan siap pada Oktober. Data ini tentang seberapa baik kandidat vaksin mereka bisa melindungi orang dari virus corona.

Baca Juga: Kabar gembira dari Pfizer, calon vaksin Covid-19 yang dikembangkan aman!

Mereka pada September lalu memperluas uji coba vaksin dari sebelumnya 30.000 menjadi 44.000 orang, dengan memasukkan remaja, usia 16-18, serta orang dengan penyakit seperti HIV dan hepatitis A, B, atau C. 

Perluasan itu Pfizer lakukan karena vaksin virus corona yang mereka kembangkan tampak sangat aman, dan uji coba dapat diperluas tanpa menunda waktu penyelesaian.

Data yang Pfizer rilis bulan lalu memperlihatkan, peserta, baik orang yang lebih muda dan lanjut usia, hanya mengeluhkan efek samping ringan, seperti sakit kepala dan nyeri lengan.

Selanjutnya: FDA rilis standar vaksin corona lebih ketat, Trump: Bisa tidak saya setujui

 




TERBARU

[X]
×