Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.480
  • EMAS663.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

UNCTAD: Kenaikan tarif impor berpotensi kembali memicu perang dagang China-AS

Selasa, 05 Februari 2019 / 18:25 WIB

UNCTAD: Kenaikan tarif impor berpotensi kembali memicu perang dagang China-AS
ILUSTRASI. Benny Rachmadi - Efek Perang Dagang AS-China

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD), sebuah lembaga perdagangan dan pembangunan di bawah PBB, memperingatkan adanya efek negatif jika perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China berlanjut.

Dilansir dari Reuters, Selasa (5/2), AS berencana kembali menaikkan tarif masuk atas barang impor China pada bulan depan jika tidak ada kesepakatan dari kedua negara. Menurut studi UNCTAD, hal ini akan memicu kemerosotan ekonomi dan menyebabkan ekspor China sebesar US$ 200 miliar akan diambil oleh negara-negara lain.


Amerika Serikat memungut bea tambahan antara 10% dan 25% atas barang-barang China senilai US$ 250 miliar paa tahun lalu dengan alasan China menjalankan praktik perdagangan yang tidak adil. Adapun tarif impor 10% tersebut akan dinaikan menjadi 25% kecuali ada kemajuan signifikan pada kesepakatan perdagangan sebelum 1 Maret 2019.

“Implikasinya akan sangat besar dan berdampak bagi seluruh sistem perdagangan internasional yang juga akan berpengaruh negatif,” kata Kepala Perdagangan Internasional UNCTAD Pamela Coke Hamilton.

Dia mengatakan, kenaikan tarif AS dan langkah pembalasan oleh China akan memicu penurunan ekonomi karena ketidakstabilan di pasar komoditas dan keuangan. Sementara langkah perusahaan untuk beradaptasi akan memberikan tekanan pada pertumbuhan global.

“Akan ada perang mata uang dan devaluasi, stagflasi yang mengarah pada kehilangan pekerjaan dan pengangguran yang lebih tinggi dan lebih penting, kemungkinan efek penularan, atau apa yang kita sebut efek reaksioner, yang mengarah ke riam langkah distorsi perdagangan lainnya,” paparnya.

Hal ini juga berakibat buruk bagi negara-negara kecil, yang akan menjadi lebih miskin sehingga mereka harus berjuang untuk mengatasi guncangan secara eksternal. Di samping itu, biaya perdagangan antara AS-China yang lebih tinggi akan mendorong perusahaan untuk beralih dari rantai pasok Asia Timur saat ini.

Namun, dampak pengenaan tarif itu tidak akan menguntungkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Perusahaan-perusahaan AS akan menangkap hanya 6% dari US$ 250 miliar nilai ekspor China yang terpengaruh. Sementara perusahaan-perusahaan China akan mempertahankan 12%, meskipun dengan biaya perdagangan yang lebih tinggi.

Negara-negara lain diperkirakan akan menangkap 82% dari nilai ekspor China US$ 250 miliar dan 85% dari ekspor AS senilai U$ 85 yang dikenai tarif.

“Uni Eropa akan menangkap US$ 70 miliar dari perdagangan AS-China. Jepang, Meksiko, dan Kanada masing-masing akan memperoleh lebih dari US$ 20 miliar," pungkasnya.


Reporter: Ferrika Sari
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0588 || diagnostic_web = 0.3434

Close [X]
×