Varian Delta menyapu dunia, angka kematian global COVID-19 tembus 5 juta

Senin, 04 Oktober 2021 | 06:15 WIB Sumber: Reuters
Varian Delta menyapu dunia, angka kematian global COVID-19 tembus 5 juta


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Berdasarkan perhitungan terbaru Reuters, angka kematian di seluruh dunia terkait dengan COVID-19 melampaui 5 juta pada hari Jumat (1/10/2021). Orang-orang yang tidak divaksinasi Covid-19 secara khusus terpapar strain Delta yang mematikan.

Varian ini telah mengekspos perbedaan yang luas dalam tingkat vaksinasi antara negara-negara kaya dan miskin, dan akibat dari keraguan vaksin di beberapa negara barat.

Lebih dari setengah dari semua kematian global yang dilaporkan terjadi di Amerika Serikat, Rusia, Brasil, Meksiko, dan India.

Sebelumnya, butuh waktu lebih dari setahun untuk mencapai jumlah kematian COVID-19 2,5 juta. Namun, menurut analisis Reuters, penambahan 2,5 juta kematian berikutnya dicatat hanya dalam waktu kurang dari delapan bulan.

Rata-rata, 8.000 kematian dilaporkan setiap hari di seluruh dunia selama seminggu terakhir, atau sekitar lima kematian setiap menit. Namun, tingkat kematian global telah melambat dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Jokowi pastikan vaksinasi Covid-19 merata dari Sabang hingga Merauke

Ada peningkatan fokus dalam beberapa hari terakhir untuk mendapatkan vaksin ke negara-negara miskin, di mana banyak orang belum menerima dosis pertama, bahkan ketika rekan-rekan mereka yang lebih kaya mulai memberikan suntikan booster.

Menurut Our World in Data, lebih dari separuh dunia belum menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada minggu ini mengatakan program distribusi COVAX untuk pertama kalinya akan mendistribusikan suntikan hanya ke negara-negara dengan tingkat cakupan vaksinasi terendah.

Baca Juga: UPDATE Corona Indonesia, 3 Oktober: Tambah 1.142 kasus baru, tetap pakai masker

Dipimpin bersama oleh WHO, COVAX sejak Januari telah mengalokasikan sebagian besar dosis secara proporsional di antara 140-plus negara penerima sesuai dengan ukuran populasi.

"Untuk pasokan Oktober kami merancang metodologi yang berbeda, hanya mencakup peserta dengan sumber pasokan rendah," jelas Mariangela Simao, Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Akses Terhadap Vaksin, dalam rekaman presentasi konferensi pekan lalu yang diposting di situs web WHO.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru