kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Viridis Lebih Pilih Pasar AS dan Eropa untuk Rare Earth Brasil, Bukan China


Jumat, 29 Mei 2026 / 06:03 WIB
Viridis Lebih Pilih Pasar AS dan Eropa untuk Rare Earth Brasil, Bukan China
ILUSTRASI. Mineral logam tanah jarang atau rare earth (Wikipedia/USDA)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Perusahaan tambang rare earth asal Australia, Viridis Mining and Minerals, tengah menjajaki pembicaraan lanjutan dengan calon pembeli di Amerika Serikat (AS) dan Eropa untuk proyek tambang Colossus di negara bagian Minas Gerais, Brasil.

Melansir Reuters, CEO Viridis Rafael Moreno mengatakan perusahaan tidak mengejar minat pembeli dari China meskipun terdapat ketertarikan yang kuat dari negara tersebut.

Pada Kamis (28/5/2026), Viridis meresmikan pusat riset dan pengolahan rare earth di Poços de Caldas sebagai bagian dari persiapan proyek menuju produksi stabil pada akhir 2028.

Fasilitas tersebut akan memproduksi mixed rare earth carbonate pertama dari tambang Colossus, yang mengandung mineral seperti neodymium dan terbium. Produk itu diharapkan membantu memperlancar negosiasi penjualan dengan pembeli potensial.

Peresmian pusat pengolahan ini berlangsung di tengah meningkatnya persaingan global memperebutkan rare earth dan mineral kritis, seiring upaya pemerintah AS dan Eropa mengurangi ketergantungan terhadap China.

Rare earth merupakan bahan penting untuk kendaraan listrik hingga sistem pertahanan militer.

Moreno mengatakan Viridis sejak awal telah memilih jalur pasokan Barat dibandingkan masuk ke rantai pasok China.

Menurutnya, diversifikasi rantai pasok global akan memberikan nilai lebih baik bagi produk perusahaan dibanding jika seluruh pasokan masuk ke China, yang dinilai memiliki kemampuan menekan harga pasar.

Baca Juga: WHO Mengidentifikasi Pengobatan dan Vaksin Ebola yang Akan Diuji dalam Uji Klinis

Ia juga menyebut pembahasan dengan investor dan pemberi pinjaman banyak menitikberatkan pada upaya menjaga proyek tetap berada di luar rantai pasok China.

China saat ini menguasai sekitar 60% produksi tambang rare earth global dan lebih dari 90% kapasitas pemurnian rare earth dunia.

Beijing memberlakukan pembatasan ekspor rare earth pada April 2025 sebagai respons terhadap tarif AS, dan berulang kali menegaskan bahwa ekspor hanya akan disetujui untuk permintaan yang memenuhi syarat.

Tambang Colossus menjadi proyek pertama Viridis di Brasil, selain operasi perusahaan di Australia dan Kanada.

Pusat pengolahan tersebut diperkirakan mampu memproses hingga 100 kilogram bijih per jam.

Moreno mengatakan proyek Colossus diperkirakan membutuhkan investasi antara US$ 360 juta hingga US$ 370 juta. Nilai investasi dapat meningkat menjadi US$ 400 juta apabila pemberi pinjaman meminta tambahan modal kerja.

Tonton: Jepang Sukses Uji Mesin Pesawat Hipersonik Mach 5! Tokyo-AS Hanya 2 Jam

Penyelesaian pendanaan proyek ditargetkan rampung pada kuartal III tahun ini.

Tabel 1. Profil Proyek Rare Earth Colossus

Aspek Detail
Perusahaan Viridis Mining and Minerals
Lokasi proyek Minas Gerais, Brasil
Fasilitas baru Pusat riset dan pengolahan rare earth
Target produksi stabil Akhir 2028
Kapasitas pengolahan 100 kg bijih per jam
Produk utama Mixed rare earth carbonate
Mineral penting Neodymium dan terbium




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×