Wabah Epidemi Usus Akut Melanda Korea Utara, Ini yang Dilakukan Kim Jong Un

Jumat, 17 Juni 2022 | 07:55 WIB Sumber: Reuters
Wabah Epidemi Usus Akut Melanda Korea Utara, Ini yang Dilakukan Kim Jong Un

ILUSTRASI. Korea Utara melaporkan wabah epidemi usus tak dikenal di daerah pertanian pada Kamis (16/6/2022). KCNA via REUTERS  


KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Utara melaporkan wabah epidemi usus tak dikenal di daerah pertanian pada Kamis (16/6/2022). Hal ini semakin menambah ketegangan di negara yang terisolasi itu di saat Korea Utara tengah memerangi kekurangan pasokan makanan kronis dan gelombang infeksi Covid-19.

Mengutip Reuters yang melansir KCNA, Pemimpin Kim Jong Un mengirim obat-obatan ke kota pelabuhan barat Haeju pada hari Rabu untuk membantu pasien yang menderita epidemi enterik akut. Tapi KCNA tidak memberikan jumlah yang terkena, atau mengidentifikasi penyakit tersebut.

Istilah enterik sendiri mengacu pada saluran pencernaan.

"(Kim) menekankan perlunya menahan epidemi sedini mungkin dengan mengambil tindakan yang baik untuk mengkarantina kasus yang dicurigai untuk benar-benar mengekang penyebarannya, mengkonfirmasi kasus melalui pemeriksaan epidemiologi dan tes ilmiah," kata KCNA.

Seorang pejabat di Kementerian Unifikasi Korea Selatan yang menangani urusan antar-Korea mengatakan pemerintah sedang memantau wabah tersebut, yang diduga kolera atau tipus.

Baca Juga: Korea Utara Lepaskan Tembakan Artileri, Korea Selatan Cek Kesiapan Militer

Wabah infeksi usus yang dilaporkan terjadi ketika Korea Utara menangani wabah pertama infeksi Covid-19. Korea Utara menyatakan keadaan darurat pada bulan lalu, di tengah kekhawatiran tentang kurangnya vaksin dan pasokan medis.

Badan mata-mata Korea Selatan sebelumnya mengatakan kepada anggota parlemen bahwa penyakit yang ditularkan melalui air, seperti tipus, sudah menyebar luas di Korea Utara sebelum mengumumkan wabah virus corona.

"Penyakit usus seperti tifus dan shigellosis bukanlah hal baru di Korea Utara, tetapi yang meresahkan adalah penyakit itu datang pada saat negara tersebut sudah berjuang dari Covid-19," kata profesor Shin Young-jeon di Fakultas Kedokteran Universitas Hanyang di Seoul.

Baca Juga: Hadapi Ancaman Korea Utara, Korea Selatan Akan Tingkatkan Kapasitas Pertahanan

Menurut pejabat lain di kementerian unifikasi, Korea Selatan bersedia bekerja sama dengan Korea Utara untuk mengatasi wabah penyakit, tetapi Pyongyang tetap tidak menanggapi setiap tawaran untuk berdialog, termasuk proposal Seoul sebelumnya untuk menyediakan vaksin Covid. 

Provinsi Hwanghae Selatan, di mana Haeju berada, adalah wilayah pertanian utama Korea Utara, meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan dampak pada kekurangan pangan yang sudah parah di negara itu.

Sementara kemungkinan infeksi menyebar melalui tanaman tampaknya rendah, kuncinya adalah mendisinfeksi sumber pasokan air karena penyakit tersebut kemungkinan besar ditularkan melalui air, kata Eom Joong-sik, ahli penyakit menular di Gachon University Gil Medical Center.

Pyongyang setiap hari mengumumkan jumlah pasien demam tanpa menyebutkan mereka sebagai pasien Covid. Sepertinya, hal ini disebabkan oleh kurangnya alat tes. Para ahli juga menduga bahwa angka-angka yang dirilis melalui media yang dikendalikan pemerintah tidak dilaporkan.

Data Reuters menunjukkan, Korea Utara melaporkan 26.010 lebih banyak orang dengan gejala demam pada hari Kamis, dengan jumlah total pasien demam yang tercatat di seluruh negeri sejak akhir April mendekati 4,56 juta. Korban tewas terkait wabah ini mencapai 73 orang.

Korea Utara mengatakan gelombang Covid-19 telah menunjukkan tanda-tanda mereda. Akan tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meragukan klaim Pyongyang awal bulan ini, dengan mengatakan mereka yakin situasinya semakin buruk.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru