Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (15/9/2026).
Won Korea Selatan dan dolar Taiwan menjadi dua mata uang yang mencatat pelemahan cukup besar, sementara pergerakan sejumlah mata uang lainnya cenderung terbatas.
Mengutip data Reuters pada pukul 02.09 GMT, won Korea Selatan melemah 0,43% ke level 1.352,78 per dolar AS dari posisi sebelumnya 1.347,03. Dolar Taiwan juga turun 0,37% menjadi 31,807 per dolar AS dari 31,688.
Baca Juga: Harga Emas Spot Stabil Pagi Ini (15/9), Investor Menanti Petunjuk Kebijakan The Fed
Yen Jepang melemah 0,27% ke 154,77 per dolar AS. Dolar Singapura turun 0,12% menjadi 1,272, sementara baht Thailand melemah 0,12% ke 33,24.
Di kawasan Asia Tenggara, rupiah juga berada di zona merah. Rupiah melemah 0,14% menjadi Rp17.665 per dolar AS dari Rp17.640 pada perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, ringgit Malaysia turun tipis 0,05% menjadi 4,076 per dolar AS dan yuan China melemah 0,04% ke level 6,711. Rupee India relatif stabil di 95,55 per dolar AS.
Hanya peso Filipina yang bergerak menguat di antara mata uang yang tercatat dalam tabel Reuters. Peso naik tipis 0,06% menjadi 62,795 per dolar AS.
Jika dihitung sejak awal 2026, kinerja mata uang Asia menunjukkan perbedaan yang cukup lebar. Won Korea Selatan menjadi salah satu yang menguat paling besar dengan kenaikan 6,49% terhadap dolar AS.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Bangkit Selasa (15/9), Samsung dan SK Hynix Mulai Rebound
Yuan China juga menguat 4,13%, sedangkan yen Jepang dan dolar Singapura masing-masing naik 1,21% dan 1,09%.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia masih mencatat pelemahan sepanjang tahun. Peso Filipina turun 6,36%, rupee India melemah 5,94%, rupiah terdepresiasi 5,63%, sedangkan baht Thailand turun 5,39%.
Dolar Taiwan juga masih melemah 1,16% dibandingkan posisi akhir 2025. Sementara itu, ringgit Malaysia turun tipis 0,49%.
Pergerakan mata uang Asia berlangsung di tengah perhatian investor terhadap arah kebijakan bank sentral utama dunia, terutama Federal Reserve.
Investor juga mencermati perkembangan geopolitik dan harga minyak yang berpotensi memengaruhi inflasi serta ekspektasi suku bunga global.
Baca Juga: Ekonomi China Masih Timpang, Produksi Pabrik Menguat tapi Konsumsi Melemah














