kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Xi Jinping dan Vladimir Putin pilih bungkam saat Joe Biden dinyatakan menang Pilpres


Selasa, 10 November 2020 / 06:48 WIB
Xi Jinping dan Vladimir Putin pilih bungkam saat Joe Biden dinyatakan menang Pilpres
ILUSTRASI. Rusia dan China belum memberi selamat kepada presiden terpilih AS Joe Biden atas kemenangannya dalam pemilu presiden. REUTERS/Evgenia Novozhenina/Pool


Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Hingga saat ini, Rusia dan China belum memberi selamat kepada presiden terpilih AS Joe Biden atas kemenangannya dalam pemilu presiden. 

Melansir The Telegraph, Presiden petahana Donald Trump belum mengakui kekalahan dan telah bersumpah untuk melancarkan gelombang tuntutan hukum untuk menantang hasil pemilu.

Berbicara kepada wartawan melalui telepon konferensi, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pada hari Senin bahwa Putin akan meluangkan waktu sebelum berkomentar.

“Kami pikir lebih baik menunggu hasil resmi,” kata Peskov seperti yang dilansir The Telegraph.

Ditanya mengapa Putin bergegas memberi selamat kepada Trump empat tahun sebelumnya dan tidak akan melakukan hal yang sama untuk Biden kali ini, Peskov merujuk pada tuntutan hukum oleh tim kampanye Trump serta seruan untuk penghitungan ulang.

Baca Juga: WHO tak sabar bekerja sama secara erat dengan tim Biden

"Presiden yang menjabat telah mengumumkan prosedur hukum tertentu ... Ini membuat situasinya berbeda (dari 2016)," katanya.

Oposisi Rusia Alexei Navalny menuliskan tweet ucapan selamatnya kepada Biden dan Kamala Harris selama akhir pekan.

Dia memberi selamat kepada orang Amerika karena mengadakan "pemilihan yang bebas dan adil" yang dia gambarkan sebagai "hak istimewa yang tidak tersedia untuk semua negara."

Navalny melancarkan kampanye presiden yang mengesankan melawan Putin pada 2018 tetapi didiskualifikasi dari pencalonan.

Baca Juga: China tunda ucapan selamat ke Joe Biden, tunggu hasil final pilpres AS


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×