Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mata uang China yuan menguat terhadap dolar AS pada Rabu (25/3/2026), setelah bank sentral menetapkan kurs patokan yang lebih kuat, sementara dolar tetap melemah seiring prospek kemungkinan gencatan senjata di Timur Tengah.
Yuan menguat hingga 6,8823 per dolar AS, sebelum diperdagangkan naik tipis 0,01% di level 6,8912 pada pukul 03.00 GMT.
Sementara itu, yuan offshore diperdagangkan stabil di 6,8943 per dolar AS di perdagangan Asia.
Baca Juga: BHP Prediksi Gangguan Energi Berpotensi Hambat Upaya Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Sentimen pasar optimistis namun tetap hati-hati terkait kemungkinan gencatan senjata dalam konflik antara AS-Israel dan Iran, yang bisa memungkinkan pengiriman minyak kembali dari Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Selasa (24/3/2026) bahwa negosiasi untuk mengakhiri perang tersebut mengalami kemajuan.
Meski demikian, pada Rabu Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur di Teheran, sementara Iran menanggapi dengan serangan ke Israel serta pangkalan AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, bergerak di bawah level 100.
Baca Juga: AS Siapkan 3.000–4.000 Pasukan Tambahan ke Timur Tengah di Tengah Konflik Iran
Harga minyak juga turun, dengan kontrak berjangka Brent crude melemah sekitar 5% ke level di bawah US$100 per barel.
Penguatan yuan diyakini dapat membantu meredam dampak kenaikan biaya komoditas. Analis China Merchants Securities memperkirakan nilai tukar USD/RMB akan terus menguat menuju 6,7 per akhir tahun 2026.
Sebelum pasar dibuka, People's Bank of China menetapkan kurs tengah di 6,8911 per dolar, menguat untuk sesi kedua berturut-turut dan mendekati puncak 35 bulan yang tercatat pada Jumat lalu.
Yuan spot diperbolehkan bergerak 2% di atas atau di bawah kurs patokan setiap harinya.
“Saat ini, kami tidak melihat PBoC berupaya membalikkan penguatan CNY,” kata analis Barclays.
Baca Juga: Roland Berger: Asia Masih Menjadi Pusat Pertumbuhan Konsumsi Global
Mereka menambahkan, terdapat potensi kenaikan signifikan dalam keranjang CFETS dalam jangka panjang, terutama jika ketidakpastian Timur Tengah mereda dan premi risiko dolar mulai menyempit.













