kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.995   10,00   0,06%
  • IDX 5.986   70,43   1,19%
  • KOMPAS100 782   11,35   1,47%
  • LQ45 595   10,44   1,79%
  • ISSI 206   0,99   0,48%
  • IDX30 337   5,69   1,72%
  • IDXHIDIV20 416   7,36   1,80%
  • IDX80 89   1,44   1,65%
  • IDXV30 113   2,29   2,08%
  • IDXQ30 108   1,76   1,65%

10 Negara Pernah Disanksi FIFA karena Intervensi Politik, Ada Indonesia dan Rusia


Rabu, 08 Juli 2026 / 07:55 WIB
10 Negara Pernah Disanksi FIFA karena Intervensi Politik, Ada Indonesia dan Rusia
ILUSTRASI. Presiden FIFA, Gianni Infantino (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - Sejumlah negara sempat merasakan dampak aturan tegas FIFA yang melarang campur tangan pemerintah atau pihak ketiga dalam pengelolaan sepak bola nasional.

Isu ini kembali menjadi sorotan pada Piala Dunia 2026 setelah muncul kontroversi terkait keputusan FIFA yang menangguhkan hukuman kartu merah penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Keputusan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku telah menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan ulang atas hukuman tersebut.

FIFA, melalui situs resminya, menjelaskan bahwa federasi anggotanya menjalankan organisasi secara independen tanpa campur tangan pemerintah maupun pihak ketiga.

Pelanggaran terhadap prinsip tersebut dapat berujung pada pembekuan keanggotaan, larangan mengikuti turnamen internasional, hingga penghentian akses terhadap berbagai program bantuan FIFA.

Sepanjang sejarah, FIFA telah beberapa kali menjatuhkan hukuman kepada berbagai negara karena adanya campur tangan pemerintah terhadap federasi sepak bola. Berikut daftarnya.

Baca Juga: Prancis Hadapi Ujian Sesungguhnya saat Tantang Maroko di Perempat Final Piala Dunia

1. Kenya 

Kenya menjadi negara pertama dalam daftar ini yang mendapat sanksi pada abad ke-21.

FIFA menjatuhkan pembekuan pada 2004 setelah pemerintah dianggap ikut campur dalam pengelolaan federasi sepak bola nasional.

Negara tersebut kembali menerima sanksi serupa pada 2006 dan 2022 dengan alasan yang hampir sama.

2. Kuwait

Kuwait mulai dibekukan FIFA pada Oktober 2007 akibat campur tangan pemerintah terhadap federasi sepak bola nasional.

Masalah itu belum selesai karena Kuwait kembali mendapat sanksi pada 2008 akibat gagal menggelar pemilihan umum federasi.

Pada Oktober 2015, FIFA kembali membekukan Kuwait setelah menolak mengakui undang-undang olahraga baru yang dinilai membuka ruang intervensi pemerintah. Akibatnya, Kuwait gagal mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2018.

Baca Juga: Swiss Lolos ke Perempat Final Piala Dunia usai Menang Adu Penalti atas Kolombia

3. Brunei Darussalam

Pada September 2009, FIFA menjatuhkan sanksi kepada Brunei karena adanya campur tangan pemerintah dalam pengelolaan asosiasi sepak bola nasional.

Mengutip GiveMeSport, pembekuan berlangsung hampir dua tahun sebelum dicabut pada Mei 2011, setelah National Football Association of Brunei Darussalam diakui sebagai federasi resmi negara tersebut.

4. Irak

Dua bulan setelah Brunei, giliran Irak yang dibekukan FIFA pada November 2009.

Saat itu, Komite Olimpiade Nasional Irak membubarkan federasi sepak bola nasional dan aparat keamanan mengambil alih kantor federasi.

Setelah melalui proses negosiasi selama beberapa bulan, keputusan tersebut dibatalkan sehingga FIFA mencabut sanksinya.

Baca Juga: Argentina Lolos ke Perempat Final Piala Dunia Berkat Tiga Gol Telat ke Gawang Mesir

5. Indonesia

Indonesia menjadi salah satu negara yang paling dikenal publik sepak bola Asia karena pernah dibekukan FIFA pada 2015.

Sebagai pengingat, saat itu pemerintah melalui Kemenpora membekukan PSSI dan menolak mengakui pengurusnya akibat sengketa kelayakan klub di kompetisi nasional. 

Tindakan tersebut dinilai FIFA melanggar independensi asosiasi sepak bola, sehingga Indonesia dijatuhi sanksi internasional.

Selama masa pembekuan, Indonesia tidak bisa mengikuti sejumlah agenda internasional, termasuk beberapa pertandingan kualifikasi penting. Larangan tersebut akhirnya dicabut sekitar satu tahun kemudian.

6. Guatemala

FIFA menjatuhkan sanksi kepada Guatemala pada 2016 setelah otoritas setempat dianggap mengganggu komite normalisasi yang dibentuk FIFA untuk menjalankan federasi sepak bola.

Komite tersebut dibentuk menyusul skandal korupsi yang melibatkan pengurus federasi.

Berdasarkan laporan Diario AS, FIFA menilai intervensi pemerintah telah mengganggu independensi organisasi sepak bola nasional.

Baca Juga: AS Tersingkir dari Piala Dunia, Kontroversi Trump dan FIFA Jadi Sorotan

7. Sierra Leone

Sierra Leone dibekukan FIFA pada Oktober 2018 setelah pemerintah mencopot Presiden dan Sekretaris Jenderal federasi sepak bola nasional.

Sanksi kemudian dicabut pada 2019 setelah pengadilan membebaskan keduanya dari seluruh dakwaan sehingga kepengurusan yang diakui FIFA kembali mengendalikan federasi.

8. Rusia

Rusia masih menjadi satu-satunya negara yang dilarang tampil di Piala Dunia 2026.

FIFA menjatuhkan sanksi setelah invasi Rusia ke Ukraina. Selain itu, UEFA juga masih melarang Rusia mengikuti berbagai kompetisi sepak bola di kawasan Eropa.

Baca Juga: Intervensi Trump Guncang Piala Dunia: FIFA Angkat Bicara

9. Pakistan

Pakistan kembali dibekukan FIFA pada Februari 2025 karena federasi sepak bola negara itu gagal mengadopsi konstitusi baru yang dinilai dapat menjamin pemilihan berlangsung secara adil dan demokratis.

Mengutip Reuters, FIFA menyatakan sanksi hanya akan dicabut jika Kongres Federasi Sepak Bola Pakistan menyetujui konstitusi yang disusun bersama FIFA dan AFC.

Larangan tersebut akhirnya dicabut pada 2025, tetapi Pakistan tetap gagal lolos ke Piala Dunia 2026.

10. Kongo

Pembekuan dijatuhkan pada Februari 2025 karena adanya campur tangan pihak ketiga dalam pengelolaan federasi sepak bola nasional.

Namun, pada Mei 2025, FIFA mencabut sanksi setelah seluruh persyaratan dipenuhi. Reuters melaporkan, persyaratan tersebut termasuk pengembalian kendali penuh atas kantor pusat federasi, pusat pelatihan, dan seluruh fasilitas kepada pengurus resmi.

Baca Juga: Kontroversi FIFA soal Balogun, Kasus Cristiano Ronaldo Kembali Diungkit




TERBARU

[X]
×