Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Tim nasional Argentina menunjukkan mental juara dengan membalikkan keadaan setelah tertinggal dua gol untuk mengalahkan Mesir 3-2 pada babak 16 besar Piala Dunia, Selasa (7/7/2026), sekaligus memastikan langkah ke perempat final.
Kemenangan dramatis itu memperpanjang rekor tak terkalahkan Argentina menjadi 11 pertandingan di Piala Dunia dan menjaga asa La Albiceleste mempertahankan gelar juara yang mereka raih pada edisi 2022 di Qatar.
Baca Juga: AS Gempur Sistem Pertahanan Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Kian Memanas
Sebelumnya, Argentina juga harus berjuang keras saat menyingkirkan Cape Verde dengan skor 3-2 melalui babak perpanjangan waktu pada laga terakhir fase gugur.
Namun, laga melawan Mesir menjadi ujian berbeda. Untuk pertama kalinya sejak kalah dari Arab Saudi pada pertandingan pembuka Piala Dunia 2022, Argentina tertinggal dalam sebuah pertandingan Piala Dunia.
Tertinggal 0-2 hingga menit ke-79 dan kesulitan mengembangkan permainan, Argentina bangkit secara luar biasa dengan mencetak tiga gol hanya dalam rentang waktu sekitar 13 menit.
Gol kemenangan tercipta pada masa injury time babak kedua sehingga memastikan skor akhir 3-2.
Baca Juga: Harga Emas Turun di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah
Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengaku sangat emosional melihat perjuangan para pemainnya.
"Saya bahkan tidak bisa mengangkat kepala. Maaf, saya sangat emosional. Mereka adalah sekelompok pemain yang luar biasa. Mereka seperti saudara," ujar Scaloni kepada Telemundo.
Kapten Argentina Lionel Messi juga tak mampu menyembunyikan emosinya seusai pertandingan.
"Kami merasa lega. Tidak mudah bangkit setelah tertinggal dua gol. Tapi seperti yang selalu saya katakan, tim ini tidak pernah menyerah," kata Messi.
"Apa yang dilakukan tim ini di babak gugur sungguh luar biasa. Saya sangat bahagia untuk semua orang yang bisa merayakan kelolosan kami dan menikmati jati diri tim ini. Semoga kami bisa terus melangkah," lanjutnya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 5% Selasa (7/7), Brent ke US$ 74,16
Messi sempat mengalami momen buruk pada awal pertandingan setelah gagal mengeksekusi penalti. Kegagalan itu membuatnya menjadi pemain pertama yang gagal mencetak gol dari titik penalti lebih dari satu kali dalam sejarah Piala Dunia.
Meski demikian, pemain berusia 39 tahun itu mampu menebus kesalahannya. Messi memberikan assist untuk gol pertama Argentina pada menit ke-79, lalu mencetak gol penyeimbang empat menit kemudian.
Scaloni menilai kegagalan penalti tidak menggoyahkan mental sang kapten.
"Mungkin dia gagal mengeksekusi penalti dan banyak orang akan fokus pada itu. Kami tertinggal dua gol. Tetapi Messi kembali meminta bola, mencoba lagi, dan terus mencoba. Sejujurnya, itu membuat saya merinding," ujar Scaloni.
"Saya yakin dia bermain sepak bola untuk momen-momen seperti ini. Dia mencintai bola dan menikmati permainan. Sulit menggambarkan dengan kata-kata apa yang dia rasakan pada tahap kariernya saat ini."
Baca Juga: Trump Kembali Klaim Greenland Harus Dikuasai AS, Bukan Denmark
Gol ke gawang Mesir juga memperpanjang sederet rekor Messi. Ia kini telah mencetak gol dalam sembilan pertandingan Piala Dunia secara beruntun, sekaligus enam laga berturut-turut di fase gugur, keduanya merupakan rekor baru.
Dengan koleksi delapan gol pada turnamen ini, Messi memimpin daftar pencetak gol terbanyak sementara (Golden Boot) dan menyamai rekor gol terbanyak yang pernah dicetak pemain Argentina dalam satu edisi Piala Dunia.
Delapan gol tersebut juga menjadi jumlah gol terbanyak yang dicetak seorang pemain dalam lima pertandingan pertama Piala Dunia sejak legenda Jerman Barat Gerd Müller mengoleksi 10 gol pada edisi 1970.
Meski demikian, Messi tidak terlibat langsung dalam gol kemenangan Argentina. Gol penentu lahir ketika Julian Alvarez mengirim umpan panjang kepada Lautaro Martinez, yang kemudian mengirim umpan silang ke Enzo Fernandez.
Baca Juga: Defisit Dagang AS Melonjak 42,2%: Investasi AI Picu Rekor Impor Barang Modal
Gelandang Argentina itu menuntaskannya dengan sundulan yang memastikan kemenangan La Albiceleste.
Scaloni menegaskan, kemenangan itu merupakan hasil kerja seluruh tim, bukan hanya berkat Messi.
"Bukan hanya Messi. Saya tidak ingin hanya berbicara tentang Messi karena rekan-rekannya juga berjuang dengan luar biasa. Itulah identitas tim ini," kata Scaloni.
"Pertandingan ini menjadi pelajaran bagi para pemain muda yang bermimpi mengenakan seragam Argentina. Inilah jati diri kami."














