Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak tajam pada Selasa (7/7/2026) waktu setempat setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat.
Kenaikan harga semakin besar setelah penutupan perdagangan menyusul keputusan Washington mencabut izin umum yang mengizinkan penjualan minyak mentah Iran serta melancarkan serangan terhadap Iran.
Baca Juga: Trump Kembali Klaim Greenland Harus Dikuasai AS, Bukan Denmark
Melansir Reuters, Harga minyak mentah Brent ditutup naik US$ 2,17 atau 3,01% ke level US$ 74,16 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,89 atau 2,76% menjadi US$ 70,44 per barel.
Pada perdagangan setelah penutupan pasar, Brent kembali melonjak menjadi US$ 75,88 per barel, sedangkan WTI naik ke US$ 72,20 per barel.
Dengan demikian, kedua acuan harga minyak tersebut telah menguat lebih dari 5% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Lonjakan harga terjadi setelah AS mencabut lisensi umum yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak Iran. Langkah tersebut diambil setelah Iran menyerang tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagai respons, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran.
Baca Juga: Defisit Dagang AS Melonjak 42,2%: Investasi AI Picu Rekor Impor Barang Modal
"Jelas hari ini merupakan eskalasi berikutnya dari memorandum of understanding yang telah disepakati," kata Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger.
Menurut Yawger, masih belum jelas apakah aksi Iran bertujuan menegaskan kendali atas Selat Hormuz atau sekadar menunjukkan kekuatan di tengah masa berkabung atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebelumnya pada Juni lalu, AS dan Iran menandatangani memorandum of understanding yang bertujuan mengakhiri perang Iran serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meski demikian, Yawger menilai pencabutan lisensi minyak Iran merupakan sinyal bahwa Teheran telah melampaui batas, tetapi langkah tersebut kemungkinan tidak akan berdampak besar terhadap kemampuan Iran mengekspor minyak mentah maupun peluang tercapainya kesepakatan yang lebih luas.
"Saya rasa tidak ada kepentingan bagi kedua belah pihak untuk gagal mencapai kesepakatan," ujarnya.
Baca Juga: Dua Kapal Diserang di Selat Hormuz, Iran Tolak Dialog Jika Trump Terus Mengancam
Direktur Energy and Refining ICIS, Ajay Parmar, mengatakan insiden terbaru menunjukkan rapuhnya gencatan senjata antara kedua negara.
"Serangan lanjutan dapat kembali terjadi secara sporadis dalam beberapa bulan ke depan dan akan semakin meningkatkan volatilitas pasar," kata Parmar.
Ia menambahkan, ancaman Iran untuk kembali menutup Selat Hormuz saja sudah cukup memicu lonjakan harga minyak yang signifikan.
"Karena itu, kami yakin volatilitas akan tetap membayangi pasar," ujarnya.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta serangan terhadap kapal dagang berpotensi menekan ekspor minyak dari kawasan tersebut.
Baca Juga: Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 3.535 Jiwa, Ribuan Masih Mengungsi
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan pembicaraan untuk mencapai kesepakatan final dengan Washington tidak akan berlangsung selama ancaman dari AS masih berlanjut.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan "menyelesaikan pekerjaan" apabila tidak tercapai kesepakatan.
Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan negosiasi AS-Iran serta dampaknya terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Sebelum pecahnya perang Iran, jalur strategis tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari.
Di sisi lain, militer Ukraina mengatakan drone mereka menyerang delapan kapal tanker dari armada bayangan (shadow fleet) Rusia yang digunakan untuk menghindari sanksi saat mengirimkan bahan bakar ke Crimea.
Dari sisi fundamental, sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API) menyebut persediaan minyak mentah AS turun 399.000 barel pada pekan lalu. Data resmi stok minyak dari Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat.













