kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.985   -35,00   -0,19%
  • IDX 5.986   70,43   1,19%
  • KOMPAS100 782   11,35   1,47%
  • LQ45 595   10,44   1,79%
  • ISSI 206   0,99   0,48%
  • IDX30 337   5,69   1,72%
  • IDXHIDIV20 416   7,36   1,80%
  • IDX80 89   1,44   1,65%
  • IDXV30 113   2,29   2,08%
  • IDXQ30 108   1,76   1,65%

AS Gempur Sistem Pertahanan Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Kian Memanas


Rabu, 08 Juli 2026 / 05:38 WIB
AS Gempur Sistem Pertahanan Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Kian Memanas
ILUSTRASI. Krisis Iran vs AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang baru serangan terhadap Iran dengan menyasar sistem pertahanan udara, sistem pengawasan pesisir, rudal darat-ke-udara, rudal jelajah antikapal, serta lokasi peluncuran drone.

Langkah tersebut diambil sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Emas Turun di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters pada Selasa (7/7/2026) bahwa sasaran serangan meliputi sejumlah aset militer strategis Iran yang berkaitan dengan pertahanan dan pengamanan wilayah pesisir.

Sebelumnya, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengumumkan telah memulai operasi militer tersebut, namun belum mengungkapkan rincian target yang diserang.

CENTCOM menyatakan, operasi itu merupakan tanggapan atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz.

"Agresi Iran yang telah ditunjukkan tidak dapat dibenarkan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran yang jelas terhadap gencatan senjata," tulis CENTCOM melalui platform X.

Media Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi pada Rabu dini hari waktu setempat di Kota Sirik, Pulau Qeshm, dan Bandar Abbas.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 5% Selasa (7/7), Brent ke US$ 74,16

Namun hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai penyebab ledakan maupun jumlah korban atau kerusakan.

Serangan terbaru tersebut semakin mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang disepakati AS dan Iran bulan lalu untuk menghentikan konflik yang dimulai pada Februari setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Dalam langkah yang dinilai dapat mengguncang kesepakatan tersebut, pemerintah AS juga mencabut lisensi umum yang sebelumnya mengizinkan Iran menjual minyak mentah, produk minyak bumi, dan petrokimia di pasar internasional.

Lisensi yang diterbitkan Departemen Keuangan AS pada 22 Juni itu semula berlaku hingga 21 Agustus.

Setelah dicabut, Iran diberi waktu hingga 17 Juli untuk menyelesaikan seluruh transaksi yang masih berjalan.

Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keputusan tersebut dan menyebut Washington telah melanggar kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang.

"Iran akan mengambil setiap langkah yang dianggap perlu untuk melindungi kepentingan dan keamanan nasionalnya," demikian pernyataan kementerian itu pada Rabu dini hari.

Pencabutan lisensi minyak tersebut langsung memicu kenaikan harga minyak dunia lebih dari 3%.

Meski demikian, seorang pejabat AS mengatakan para negosiator masih berupaya dengan itikad baik untuk mencapai kesepakatan damai permanen dengan Iran.

Baca Juga: Trump Kembali Klaim Greenland Harus Dikuasai AS, Bukan Denmark

Ketegangan di Selat Hormuz

Qatar menuduh Iran berada di balik serangan terhadap tiga kapal komersial, termasuk kapal tanker LNG raksasa Al Rekayyat milik Qatar yang dilaporkan terkena serangan drone hingga memicu kebakaran di ruang mesin. Seluruh awak kapal dinyatakan selamat dan sedang dievakuasi.

Sementara itu, sumber keamanan maritim mengatakan sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi yang diyakini merupakan supertanker Wedyan juga mengalami kerusakan di lepas pantai Oman, meski penyebabnya belum diketahui.

Kementerian Luar Negeri Qatar telah memanggil wakil duta besar Iran dan menyampaikan nota protes atas insiden tersebut.

Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tuduhan Qatar membingungkan. Teheran mengklaim tetap mematuhi seluruh komitmennya, namun menegaskan kapal-kapal komersial menghadapi risiko jika menggunakan jalur pelayaran yang tidak dikoordinasikan dengan Iran.

Seorang pejabat AS lainnya mengatakan indikasi awal menunjukkan Iran memang melepaskan tembakan ke arah tiga kapal komersial tersebut.

Baca Juga: Defisit Dagang AS Melonjak 42,2%: Investasi AI Picu Rekor Impor Barang Modal

Trump Kembali Tekan Iran

Presiden AS Donald Trump kembali memperingatkan Iran agar segera mencapai kesepakatan damai.

"Kita akan mencapai kesepakatan atau kita akan menyelesaikan pekerjaan itu. Kami bisa menghancurkan jembatan mereka dalam satu jam dan melumpuhkan pasokan energi mereka," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval pada Senin.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan berdasarkan nota kesepahaman gencatan senjata sementara, pembicaraan menuju kesepakatan permanen tidak akan dimulai selama ancaman dari AS masih berlanjut.

Perundingan tidak langsung yang berlangsung di Qatar pekan lalu berakhir tanpa kemajuan berarti menuju perdamaian jangka panjang.

Baca Juga: Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 3.535 Jiwa, Ribuan Masih Mengungsi

Saat meluncurkan perang empat bulan lalu, Trump menyatakan tujuan AS adalah menghancurkan program nuklir dan rudal Iran, mengakhiri kemampuan Teheran mengancam negara-negara tetangganya, serta menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat Iran menggulingkan pemerintahnya.

Hingga kini, tujuan-tujuan tersebut dinilai belum tercapai. Namun Washington tetap menegaskan bahwa kesepakatan permanen nantinya harus memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang terus dibantah oleh Teheran.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×