Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya negara-negara Barat untuk melindungi jalur pelayaran energi di Selat Hormuz menghadapi tantangan besar. Pengalaman mahal dan kurang berhasil dalam mengamankan Laut Merah menjadi peringatan serius bagi operasi serupa di kawasan yang jauh lebih kompleks ini.
Aliansi Barat sebelumnya telah menghabiskan miliaran dolar dalam operasi pengamanan Laut Merah untuk menghadapi kelompok Houthi di Yaman. Namun, hasilnya dinilai belum optimal.
Empat kapal tenggelam, lebih dari US$1 miliar amunisi digunakan, dan jalur pelayaran tersebut hingga kini masih dihindari oleh banyak perusahaan pelayaran global.
Kini, tantangan di Selat Hormuz dinilai jauh lebih berat. Jalur ini merupakan arteri utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia, namun saat ini sebagian besar terblokir oleh Iran—lawan yang jauh lebih kuat dibandingkan Houthi.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 5% di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS–Iran
Ancaman Energi Global Meningkat
Ancaman Iran terhadap Selat Hormuz serta serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk telah mendorong lonjakan harga minyak global. Gangguan ini disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah pasokan energi dunia.
Tanpa pembukaan kembali selat tersebut, risiko kelangkaan energi diperkirakan akan semakin parah, berdampak pada kenaikan harga bahan bakar, pangan, dan berbagai komoditas lainnya di seluruh dunia.
CEO Kuwait Petroleum, Sheikh Nawaf Saud Al-Sabah, menegaskan bahwa tidak ada alternatif bagi Selat Hormuz. Ia menyebut jalur tersebut sebagai milik dunia, baik secara hukum internasional maupun realitas praktis.
Opsi Militer dan Diplomasi
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tengah membahas resolusi untuk melindungi Selat Hormuz. Beberapa negara seperti Bahrain mendorong pendekatan tegas, termasuk kemungkinan penggunaan “segala cara yang diperlukan”, yang berpotensi mencakup opsi militer.
Namun, para ahli menilai operasi di Selat Hormuz akan jauh lebih rumit dibandingkan di Laut Merah. Selain wilayah yang lebih luas, Iran memiliki kemampuan militer yang lebih canggih, termasuk drone, rudal, dan ranjau laut.
Laksamana Muda (Purn.) Mark Montgomery menyatakan bahwa pengawalan kapal di Selat Hormuz jauh lebih menantang dibandingkan di Laut Merah, mengingat kondisi geografis dan ancaman yang lebih kompleks.
Baca Juga: Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Dorong Bursa Eropa Naik, Harga Minyak Turun
Kompleksitas Ancaman Iran
Berbeda dengan Houthi, pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps merupakan militer profesional dengan akses ke teknologi dan pendanaan besar. Mereka juga diyakini memiliki stok senjata tersembunyi di sepanjang garis pantai pegunungan yang curam.
Ancaman yang dihadapi tidak hanya berupa rudal dan drone, tetapi juga ranjau laut, kapal tanpa awak bermuatan bahan peledak, hingga kapal selam mini bersenjata. Para ahli memperkirakan drone Iran dapat menyerang kapal dalam waktu hanya 5 hingga 10 menit dari garis pantai.
Risiko Tinggi Operasi Militer
Untuk mengamankan selat, dibutuhkan hingga selusin kapal perang besar seperti destroyer, didukung oleh pesawat tempur, drone, dan helikopter. Namun, keterbatasan ruang manuver di selat sempit ini menjadi tantangan tersendiri.
Analis memperingatkan bahwa kehilangan satu kapal perang saja dapat mengubah seluruh perhitungan strategis, mengingat potensi korban jiwa yang besar.
Pelajaran dari Laut Merah
Operasi di Laut Merah, yang dimulai sejak 2023, dinilai hanya berhasil secara taktis, tetapi gagal secara strategis. Banyak kapal kini memilih rute lebih panjang melalui Tanjung Harapan di Afrika demi menghindari risiko serangan.
Analis menilai skenario serupa bisa terjadi di Selat Hormuz jika keamanan tidak dapat dijamin sepenuhnya.
Baca Juga: AS Siapkan Ribuan Pasukan Elit ke Timur Tengah di Tengah Opsi Damai Iran
Ketidakpastian Peran AS
Presiden AS Donald Trump sendiri belum menunjukkan sikap konsisten. Ia sempat menyatakan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal jika diperlukan, namun kemudian mendorong negara lain untuk memimpin upaya tersebut.
Sejak serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, Teheran telah membatasi akses kapal di selat tersebut. Bahkan, Iran dikabarkan mempertimbangkan kebijakan pungutan bagi kapal yang ingin melintas.
Prospek Pemulihan Jalur Energi
Para ahli menilai kombinasi operasi pembersihan ranjau, pengawalan militer, dan patroli udara dapat secara bertahap memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz. Namun, proses ini diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan hingga ancaman dapat benar-benar ditekan.
Dengan kompleksitas ancaman dan besarnya kepentingan global, upaya mengamankan Selat Hormuz menjadi ujian besar bagi stabilitas energi dunia dan efektivitas kerja sama internasional di tengah krisis geopolitik yang terus memanas.













