Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Kim Yo Jong, saudara perempuan sekaligus pejabat senior Korea Utara, membantah klaim Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy bahwa Pyongyang berencana mengirim hingga 50.000 tentara tambahan ke Rusia untuk membantu sekutunya dalam perang di Ukraina.
Kim Yo Jong menyebut klaim tersebut tidak berdasar. Pernyataan itu disampaikan melalui media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), pada Rabu (19/8).
"Perkiraan Zelenskiy tidak berdasar dan merupakan sebuah insiden yang direkayasa sendiri," kata Kim Yo Jong dalam pernyataannya.
Zelenskiy sebelumnya menyampaikan klaim tersebut melalui unggahan di media sosial X pada bulan ini. Dalam unggahan yang sama, Zelenskiy juga meminta Korea Selatan memberikan dukungan untuk memperkuat pertahanan udara Ukraina.
Kim Yo Jong kemudian menegaskan bahwa Korea Utara menilai Amerika Serikat dan negara-negara Barat sepenuhnya bertanggung jawab atas pecahnya serta berlarut-larutnya krisis Ukraina.
Baca Juga: India Siapkan Reformasi Pasar, Bidik Dana Asing
Korea Utara Pernah Kirim Ribuan Tentara ke Rusia
Korea Utara diketahui telah mengirim sekitar 14.000 tentara ke wilayah Kursk, Rusia, pada 2024. Pengiriman tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian kemitraan strategis komprehensif yang disepakati setelah kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Pyongyang pada Juni 2024.
Selain mengirim personel militer, Pyongyang juga dituduh memasok berbagai persenjataan kepada Rusia.
Berdasarkan penilaian Ukraina dan sejumlah pihak independen, Korea Utara telah memasok jutaan peluru artileri dan mortir, rudal balistik, artileri jarak jauh, serta sistem peluncur roket multipel kepada Rusia.
Dukungan tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam hubungan militer yang semakin erat antara Pyongyang dan Moskow di tengah perang Rusia-Ukraina.
Namun, Kim Yo Jong membantah adanya rencana pengiriman tambahan hingga 50.000 tentara seperti yang diklaim Zelenskiy.
Kim Yo Jong Soroti Latihan Militer AS-Korea Selatan
Dalam pernyataannya, Kim Yo Jong juga menyoroti hubungan Korea Utara dengan Amerika Serikat. Ia mengatakan kebijakan "bermusuhan" Washington terhadap Pyongyang belum berubah meskipun Presiden Donald Trump telah memerintahkan pengurangan besar dalam keterlibatan Amerika Serikat pada latihan militer bersama Korea Selatan.
Menurut Kim Yo Jong, hubungan antara para pemimpin Amerika Serikat dan Korea Utara memang "benar-benar hebat". Namun, Washington dinilai masih menjalankan latihan militer bersama Seoul dan pada saat yang sama mengancam keamanan nasional Korea Utara.
Kim Yo Jong juga mengatakan dirinya tidak mengetahui adanya komunikasi terbaru antara pemimpin kedua negara.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump pada Senin mengatakan telah menerima respons dari Kim Jong Un. Trump sebelumnya mengurangi skala latihan militer AS-Korea Selatan dan menyebut Korea Utara sebagai pihak yang "tidak mengancam dan penuh rasa hormat".
Baca Juga: Impor Jepang Cetak Rekor, Harga Minyak Dorong Tekanan Inflasi
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya dinamika baru dalam hubungan Washington dan Pyongyang, meski Korea Utara masih mempertanyakan kebijakan keamanan Amerika Serikat di kawasan Semenanjung Korea.
Ketegangan Rusia-Ukraina dan Peran Korea Utara
Keterlibatan Korea Utara dalam konflik Rusia-Ukraina menjadi perhatian internasional karena dukungan Pyongyang tidak hanya mencakup hubungan politik dengan Moskow, tetapi juga kerja sama militer dan pengiriman personel serta persenjataan.
Klaim mengenai kemungkinan pengiriman puluhan ribu tentara tambahan juga berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai eskalasi konflik apabila benar-benar terjadi.
Namun, hingga kini Kim Yo Jong secara tegas menyatakan bahwa klaim Zelenskiy mengenai rencana pengiriman hingga 50.000 tentara tambahan ke Rusia tidak memiliki dasar.
Dengan bantahan tersebut, perkembangan selanjutnya akan bergantung pada bukti dan informasi yang dapat diberikan Ukraina maupun pihak-pihak lain mengenai skala dukungan militer Korea Utara kepada Rusia.














