kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   80.000   3,02%
  • USD/IDR 17.783   -84,00   -0,47%
  • IDX 6.471   77,08   1,21%
  • KOMPAS100 838   12,57   1,52%
  • LQ45 636   8,31   1,32%
  • ISSI 228   3,05   1,36%
  • IDX30 354   3,29   0,94%
  • IDXHIDIV20 431   2,96   0,69%
  • IDX80 96   1,39   1,47%
  • IDXV30 120   0,46   0,39%
  • IDXQ30 112   0,99   0,89%

India Siapkan Reformasi Pasar, Bidik Dana Asing


Kamis, 20 Agustus 2026 / 10:18 WIB
India Siapkan Reformasi Pasar, Bidik Dana Asing
ILUSTRASI. Securities and Exchange Board of India (SEBI). (REUTERS/Hemanshi Kamani)


Sumber: Reuters | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - MUMBAI. India tengah menyiapkan reformasi besar di pasar modal untuk membendung derasnya arus keluar dana asing sekaligus meningkatkan daya tarik bursa domestik bagi investor global. Regulator pasar modal India, Securities and Exchange Board of India (SEBI), berencana merombak sejumlah aturan yang telah berlaku selama puluhan tahun.

Melansir Reuters (20/8), langkah tersebut dilakukan di tengah kepemilikan asing atas saham India yang telah mencapai level terendah dalam 17 tahun. Di saat yang sama, rupee telah melemah sekitar 6% sepanjang tahun ini dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia, tertekan kekhawatiran terhadap tingginya biaya impor serta lemahnya arus modal asing.

Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan reformasi SEBI antara lain mencakup penurunan persyaratan agunan untuk transaksi saham tunai serta mendorong penggunaan kontrak derivatif dengan tenor lebih panjang. SEBI menargetkan perubahan tersebut dapat diterapkan dalam waktu sekitar sembilan bulan setelah melalui konsultasi dengan pelaku industri.

Reformasi ini juga akan melengkapi langkah SEBI untuk memperdalam pasar saham tunai. Regulator berencana mempermudah aksi short selling serta hampir menggandakan jumlah saham yang dapat digunakan dalam mekanisme peminjaman dan peminjaman kembali saham.

Tekanan terhadap pasar India terlihat dari penurunan bobot negara tersebut dalam indeks pasar negara berkembang MSCI. Bobot India kini berada di bawah 12%, jauh turun dari puncaknya sebesar 21% pada September 2024. Sementara itu, penjualan saham India oleh investor asing mencapai lebih dari US$ 50 miliar pada periode Oktober 2024 hingga Juni 2026.

Investor asing telah lama meminta reformasi agar pasar modal India lebih sejalan dengan bursa utama Asia seperti China, Korea Selatan dan Taiwan. Pasar-pasar tersebut dinilai telah memiliki mekanisme securities lending and borrowing serta lelang penutupan yang lebih matang.

Baca Juga: Impor Jepang Cetak Rekor, Harga Minyak Dorong Tekanan Inflasi

Penyedia indeks global MSCI juga akan memantau efektivitas reformasi tersebut. MSCI menilai pembentukan harga penutupan, efisiensi margin dan agunan, peminjaman saham, short selling serta instrumen lindung nilai menjadi faktor penting dalam menilai aksesibilitas pasar India bagi investor institusi global.

Salah satu perubahan yang menjadi perhatian adalah pemangkasan kebutuhan agunan untuk transaksi saham yang sangat likuid. Kebijakan ini berpotensi menurunkan kebutuhan modal awal sekitar 15% hingga 20%. SEBI juga mempertimbangkan pengurangan agunan awal untuk kontrak derivatif dengan jatuh tempo lebih dari satu tahun.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pasar India terhadap perdagangan derivatif berjangka pendek. Saat ini, kontrak derivatif dengan tenor panjang di India memiliki likuiditas yang sangat rendah, sehingga menyulitkan investor yang membutuhkan strategi lindung nilai jangka panjang.

Upaya menarik kembali investor institusi juga menjadi penting karena investor ritel masih mendominasi aktivitas perdagangan derivatif India. Data bursa menunjukkan investor ritel menyumbang lebih dari 35% aktivitas perdagangan di India, dibandingkan sekitar 20% di Amerika Serikat.

Meski demikian, reformasi tersebut bukan tanpa risiko. Penerapan mekanisme baru dalam menentukan harga penutupan saham pada awal Agustus sempat memicu volatilitas tajam pada indeks Nifty 50 dan Sensex. SEBI bahkan baru-baru ini mengambil tindakan terhadap dua perusahaan yang dituding memanipulasi perdagangan dalam mekanisme lelang penutupan tersebut.

Kendati berpotensi menimbulkan gejolak dalam jangka pendek, reformasi pasar dinilai dapat mengurangi hambatan transaksi dan membuat pasar India lebih mudah diakses investor global. Namun, sejumlah pelaku pasar menilai perubahan aturan saja belum cukup untuk mendorong lonjakan signifikan investasi pasif asing ke India.

Baca Juga: Ringgit Perkasa Kamis (20/8), Mayoritas Mata Uang Asia Menguat terhadap Dolar AS




TERBARU

[X]
×