Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mata Uang Asia Menguat, Ringgit Malaysia Jadi Penguat Terbesar
Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (20/8/2026).
Baca Juga: Tingkat Pengangguran Australia Naik ke 4,5%, Tertinggi Hampir 5 Tahun
Ringgit Malaysia mencatat penguatan paling besar, sementara won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang yang melemah.
Mengutip Reuters pada pukul 02.02 GMT, ringgit menguat 0,45% terhadap dolar AS menjadi 4,035 ringgit per dolar, dari sebelumnya 4,053 ringgit.
Penguatan juga terjadi pada sejumlah mata uang Asia lainnya. Peso Filipina naik 0,30% menjadi 61,595 per dolar, sedangkan rupiah Indonesia menguat 0,25% menjadi 17.780 per dolar.
Yuan China naik 0,14% menjadi 6,721 per dolar, sementara baht Thailand menguat 0,11% menjadi 32,828 per dolar. Dolar Taiwan naik 0,15% menjadi 31,889 per dolar.
Sementara itu, dolar Singapura relatif stabil dengan penguatan tipis 0,02% menjadi 1,271 per dolar.
Di sisi lain, won Korea Selatan melemah 0,38% menjadi 1.394,4 per dolar. Yen Jepang juga turun 0,20% menjadi 158,47 per dolar.
Baca Juga: Citi, HSBC, dan Standard Chartered Adopsi AI Ant International untuk Valas
Rupiah Masih Tertekan Sepanjang 2026
Meski menguat dalam perdagangan harian, rupiah masih menjadi salah satu mata uang Asia dengan kinerja terlemah sepanjang tahun ini.
Sejak akhir 2025, rupiah telah melemah sekitar 6,24% terhadap dolar AS. Posisi tersebut berada di bawah kinerja rupee India yang turun 6,14% dan peso Filipina yang melemah 4,54%.
Baht Thailand juga tertekan dengan penurunan sekitar 4,20% sepanjang 2026.
Sebaliknya, yuan China menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik. Yuan telah menguat sekitar 3,97% terhadap dolar AS sejak akhir 2025, disusul won Korea Selatan yang menguat 3,23%.
Baca Juga: GLOBAL MARKETS - Obligasi Stabil Setelah AS Redam Gejolak Pasar & Saham Asia Menguat
Dolar Singapura menguat 1,11% sepanjang tahun, sedangkan ringgit Malaysia naik tipis 0,52%.
Yen Jepang masih melemah 1,15% sepanjang 2026, sementara dolar Taiwan turun 1,41%.
Pergerakan mata uang Asia terjadi di tengah tekanan terhadap dolar AS setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS turun menyusul langkah Departemen Keuangan AS menggandakan nilai buyback surat utang jangka panjang.
Kondisi tersebut turut memberikan ruang bagi sejumlah mata uang regional untuk menguat terhadap greenback.














