Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar obligasi global mulai stabil pada perdagangan Kamis (20/8/2026) setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) mengambil langkah untuk meredam gejolak pasar surat utang.
Langkah tersebut menenangkan investor, menekan dolar AS, sekaligus mendorong kenaikan pasar saham.
Baca Juga: Ekspor Gandum Rusia dan Ukraina melalui Laut Hitam Terhenti, Harga Melonjak
Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan nilai pembelian kembali (buyback) surat utang jangka panjang, setelah aksi jual besar-besaran mendorong imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007 pada awal pekan ini.
Melansir Reuters, imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun berada sedikit lebih rendah di 5,1890% pada perdagangan awal Asia, setelah turun 9 basis poin pada sesi sebelumnya.
Sementara yield US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,6466%, setelah turun 5 basis poin pada Rabu.
Ekonom Senior National Australia Bank Taylor Nugent mengatakan waktu pengumuman tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa pemerintah AS memperhatikan tekanan terhadap biaya pinjaman jangka panjang.
"Pengumuman tersebut tidak mengubah fundamental, tetapi secara tajam membuat kurva imbal hasil menjadi lebih datar," ujar Nugent.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil Kamis (20/8), Brent ke US$91,87 dan WTI ke US$85,81
Yield Obligasi Jepang Ikut Turun
Penurunan yield juga terjadi pada obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bonds (JGBs).
Yield JGB tenor 20 tahun turun 7,5 basis poin menjadi 3,70%, sementara yield tenor 10 tahun turun 4,5 basis poin.
Di Eropa, kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman dan Prancis bergerak naik, yang mengindikasikan penurunan yield.
Baca Juga: AIA Group Catat Kenaikan 10% Nilai Bisnis Baru pada Semester I 2026
Aksi jual obligasi global pada pekan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap lonjakan utang pemerintah AS, Jerman dan Jepang.
Tekanan juga diperburuk oleh meningkatnya pembiayaan perusahaan teknologi terkait kecerdasan buatan (AI) serta harga minyak yang masih tinggi.
Meski langkah Departemen Keuangan AS untuk sementara mampu memberikan penyangga terhadap harga obligasi, investor menilai dampaknya kemungkinan hanya bersifat sementara.
Chief Investment Officer KGI Cusson Leung mengatakan semakin sering Departemen Keuangan AS melakukan intervensi, semakin besar potensi investor institusi kembali melakukan aksi jual.
"Pada akhirnya, Departemen Keuangan AS tetap merupakan pihak yang harus menghimpun utang dari pasar obligasi. Melakukan buyback sekarang seperti perusahaan melakukan pembelian kembali saham, lalu kembali menerbitkan saham. Pasar kemungkinan tidak akan mudah menerimanya," kata Leung.
Baca Juga: Harga Emas Spot Bertahan Dekati Level Tertinggi Sejak Awal Juni pada Kamis (20/8)
Saham Rebound, Dolar AS Melemah
Sentimen pasar yang membaik turut mendorong kenaikan saham pada perdagangan Kamis.
Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 1,2%, sama seperti indeks Nikkei Jepang.
Kontrak berjangka Nasdaq naik 0,5%, sementara kontrak berjangka S&P 500 meningkat 0,16%. Sebaliknya, EUROSTOXX 50 futures turun tipis 0,14%.
Baca Juga: China Pertahankan Suku Bunga Kredit, LPR Tetap 3% untuk Bulan ke-15
Penurunan yield obligasi AS turut menekan dolar. Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama berada di sekitar 98,86, mendekati level terendah dalam 2,5 bulan.
Euro bertahan di sekitar level tertinggi sejak 29 Mei di US$1,1674, sedangkan pound sterling stabil di US$1,3600 setelah menguat 0,55% pada sesi sebelumnya.
Analis OCBC menilai, apabila yield tenor panjang AS secara efektif berhasil dibatasi, pelemahan dolar kemungkinan menjadi konsekuensi untuk mempertahankan daya tarik surat utang pemerintah AS bagi investor asing.
Pasar juga mencermati arah kebijakan Federal Reserve setelah risalah pertemuan terakhir The Fed menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi semakin meningkat.
Risalah tersebut menunjukkan beberapa pejabat siap menaikkan suku bunga, sementara banyak pejabat menilai kenaikan suku bunga diperlukan jika inflasi tidak turun menuju target 2%.
"Peristiwa penting berikutnya adalah pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada simposium Jackson Hole pekan depan," tulis analis OCBC.
Mereka memperkirakan tidak akan ada pesan yang terlalu hawkish tanpa adanya panduan kebijakan yang jelas.
Baca Juga: JGB Menguat, Terimbas Langkah AS Tekan Yield Treasury
Minyak dan Emas
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent naik 0,33% menjadi US$91,92 per barel. Sementara minyak mentah AS bertahan setelah menguat 1% pada sesi sebelumnya dan berada di US$85,81 per barel.
Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih melambat. Data menunjukkan sebagian besar pemilik kapal menghindari jalur strategis tersebut karena belum ada kepastian mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran setelah blokade selama perang Iran.
Sementara itu, harga emas spot turun 0,6% menjadi US$4.492,56 per ons troi.














