Akibat Covid-19, Manufaktur China Kembali Berkontraksi

Minggu, 31 Juli 2022 | 20:02 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Akibat Covid-19, Manufaktur China Kembali Berkontraksi

ILUSTRASI. Pekerja wanita di pabrik Xinyu Provinsi Jiangxi China

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Aktivitas pabrik China kembali berkontraksi secara tak terduga akibat peningkatan kasus Covid-19 pada Juli 2022. Ditambah prospek pasar global yang makin suram sehingga membebani permintaan.

Biro Statistik Nasional (NBS) mencatat, indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur turun dari 50,2 pada Juni 2022 menjadi 49,0 pada Juli 2022. Ahli Statistik Senior NBS Zhao Qinghe mengatakan, realisasi ini terendah dalam tiga bulan terakhir.

"Tingkat kemakmuran ekonomi di China telah turun, fondasi untuk pemulihan masih membutuhkan konsolidasi," kata Zhao dikutip dari Reuters, Minggu (31/7).

Ia menyebut, kontraksi berkelanjutan terjadi pada industri padat energi, seperti bensin, batu bara kokas, dan logam besi, sehingga berkontribusi besar pada penurunan PMI manufaktur di bulan Juli 2022.

Baca Juga: Sejumlah Perusahaan Otomotif Asal China Merangsek Pasar Mobil Listrik di Tanah Air

Bahkan sub-indeks untuk output dan pesanan baru, masing-masing turun 3 poin dan sekitar 2 poin di bulan Juli. Sementara sub-indeks ketenagakerjaan ikut turun tipis 0,1 poin.

Sementara itu, Kepala ekonom dan kepala penelitian di Jones Lang Lasalle Inc Bruce Pang menilai, permintaan yang lemah telah membatasi pemulihan ekonomi di China.

"Pertumbuhan kuartal III 2022 mungkin masih menghadapi tantangan yang lebih besar dari yang diharapkan, karena tingkat pemulihannya lambat dan rapuh," terangnya.

PMI non-manufaktur pada bulan Juli turun menjadi 53,8 dari 54,7 pada bulan Juni. PMI komposit, yang mencakup manufaktur dan jasa, turun menjadi 52,5 dari 54,1.

Ekonomi China hampir tidak tumbuh pada kuartal kedua di tengah penguncian yang meluas, dan para pemimpin negara baru-baru ini mengisyaratkan kebijakan ketat terhadap kasus Covid tetap menjadi prioritas utama.

Pemerintah siap untuk kehilangan target pertumbuhan PDB sekitar 5,5% untuk tahun ini. Hal itu berdasarkan laporan media milik pemerintah setelah pertemuan tingkat tinggi Partai Komunis yang berkuasa.

Keputusan Beijing untuk tidak menyebutkan target telah meredam spekulasi bahwa pihak berwenang akan meluncurkan langkah-langkah stimulus secara besar-besaran, seperti yang sering terjadi pada penurunan sebelumnya.

Capital Economics mengatakan bahwa pengekangan kebijakan, bersama dengan ancaman terus-menerus dari lebih banyak penguncian dan kepercayaan konsumen yang lemah, kemungkinan akan membuat pemulihan ekonomi China lebih lambat.

Baca Juga: Terdampak Covid-19, China Isyaratkan Pertumbuhan Ekonomi di Bawah Target

Setelah rebound pada bulan Juni, pemulihan di ekonomi terbesar kedua di dunia itu tersendat karena wabah Covid-19 yang menyebabkan pembatasan aktivitas secara ketat di beberapa kota. Sementara pasar properti yang dulunya kuat bergerak dari krisis ke krisis.

Pabrik China terus bergulat dengan harga bahan baku yang tinggi, yang menekan margin keuntungan, karena prospek ekspor tetap diselimuti kekhawatiran resesi global.

Kota besar Shenzhen di Selatan China telah berjanji untuk memobilisasi semua sumber daya untuk mengekang wabah Covid yang menyebar perlahan. Kemudian menerapkan pengujian dan pemeriksaan suhu yang ketat, serta penguncian untuk bangunan yang terkena Covid.

Kota pelabuhan Tianjin, rumah bagi pabrik-pabrik yang terkait dengan Boeing dan Volkswagen, dan daerah lain memperketat pembatasan bulan ini untuk memerangi wabah baru.

Menurut World Economics, tindakan penguncian berdampak pada 41% perusahaan China pada Juli, meskipun indeks kepercayaan bisnis manufaktur naik secara signifikan dari 50,2 pada Juni menjadi 51,7 pada Juli.

Editor: Yudho Winarto

Terbaru