Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pasar keuangan global menghadapi tekanan akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara utama. Kekhawatiran terhadap membengkaknya utang pemerintah dan meningkatnya biaya pembiayaan mendorong investor lebih berhati-hati, sekaligus menekan pasar saham di berbagai kawasan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade pada Selasa (18/8/2026). Yield surat utang AS tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,3371%, sebelum bergerak stabil di sekitar 5,28% pada perdagangan Asia, Rabu (19/8/2026).
Kenaikan imbal hasil juga terjadi di Eropa dan Jepang. Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun dan 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2011.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 30 tahun telah meningkat hampir 50 basis poin sejak akhir Juni. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang sebelumnya berada di sekitar nol persen kini mendekati 3%.
Pergerakan tersebut terjadi ketika inflasi masih menjadi perhatian dan investor menilai bank sentral bergerak terlalu lambat dalam merespons tekanan harga.
Baca Juga: Trump Bantah Ada Negosiasi dengan Iran, Ketegangan Selat Hormuz Memanas
Nigel Green, CEO deVere Group, mengatakan investor mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah dalam mengendalikan belanja dan utang.
"Investor tidak lagi menganggap begitu saja bahwa belanja pemerintah akan dikendalikan. Bahkan, mereka mulai memperhitungkan risiko bahwa hal tersebut tidak terjadi," ujar Green.
Utang Pemerintah Jadi Perhatian Investor
Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor untuk memegang surat utang dengan tenor panjang. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh tingginya kebutuhan penerbitan utang pemerintah di tengah kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal.
Tekanan terhadap pasar obligasi sempat mereda pada perdagangan pagi di Asia. Namun, prospek inflasi masih menjadi perhatian investor.
Harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$90 per barel. Pasar masih menantikan perkembangan terkait upaya membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak, tetapi hingga kini belum terlihat kemajuan dalam pembicaraan tersebut.
Kenaikan harga minyak berpotensi memperkuat tekanan inflasi global karena meningkatkan biaya energi dan transportasi. Kondisi tersebut dapat mempersempit ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga.
Baca Juga: Trump Tunda Tarif 50% Kanada, AS Klaim Telah Capai Kesepakatan
Pasar Menunggu Risalah The Fed
Investor juga menantikan publikasi risalah pertemuan Federal Reserve AS atau The Fed pada Juli 2026. Dalam pertemuan tersebut, bank sentral AS mempertahankan suku bunga.
Perhatian pasar tertuju pada bagaimana para pejabat The Fed melihat perkembangan inflasi serta kemungkinan arah kebijakan moneter berikutnya.
Pasar juga mencermati komentar Ketua The Fed Kevin Warsh yang dinilai belum memberikan petunjuk jelas mengenai respons bank sentral terhadap inflasi yang masih bertahan.
Selain itu, pemerintah AS dijadwalkan menawarkan obligasi pemerintah tenor 20 tahun senilai US$16 miliar pada Rabu.
Besarnya penerbitan surat utang tersebut menjadi perhatian karena investor saat ini semakin sensitif terhadap harga obligasi, terutama pada surat utang tenor panjang.
Jack Chambers, senior rates strategist ANZ, mengatakan posisi investor marginal di pasar obligasi mulai berubah ketika penerbitan utang meningkat.
"Pada dasarnya, investor marginal di pasar obligasi, khususnya obligasi tenor panjang dan obligasi pemerintah, menjadi sedikit lebih sensitif terhadap harga pada saat penerbitan utang sedang sangat tinggi," kata Chambers.
Bursa Asia Ikut Tertekan
Tekanan di pasar obligasi turut merembet ke pasar saham. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,7% pada perdagangan Rabu.
Indeks Nikkei Jepang juga melemah 2,6%, mengikuti penurunan saham-saham teknologi di Wall Street pada perdagangan sebelumnya.
Kontrak berjangka saham AS dan Eropa masing-masing turun sekitar 0,1%.
Di tengah sentimen risk-off tersebut, dolar AS memperoleh sedikit dukungan di pasar valuta asing, meskipun pergerakannya relatif terbatas.
Euro berada di sekitar US$1,1576, sementara yen diperdagangkan pada level 159,44 per dolar AS. Posisi yen yang mendekati level 160 menjadi perhatian karena investor menilai level tersebut berpotensi memicu kembali intervensi otoritas Jepang untuk menopang mata uangnya.
Saham Teknologi Asia Tertekan
Saham teknologi dan semikonduktor Asia turut berada di bawah tekanan setelah sektor teknologi Wall Street melemah.
Investor juga mencermati perkembangan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Laporan mengenai pendapatan tahunan Anthropic yang mencapai lebih dari US$65 miliar pada akhir Juli dinilai masih berada di bawah sebagian ekspektasi pasar.
Di China, saham Unitree, perusahaan pembuat robot humanoid terbesar di dunia, justru melonjak sekitar 600% pada hari pertama perdagangan. Penawaran saham tersebut mengalami kelebihan permintaan dari investor ritel lebih dari 8.000 kali.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa meski sentimen global cenderung menghindari risiko, minat investor terhadap sektor teknologi dan AI tertentu masih sangat kuat.
Baca Juga: Pasar Obligasi Global Bergejolak, Saham Asia Ikut Tertekan
Penerbitan Utang Korporasi Turut Meningkat
Tekanan terhadap permintaan obligasi juga datang dari meningkatnya penerbitan surat utang oleh perusahaan teknologi besar.
Alphabet, perusahaan induk Google, dilaporkan tengah mempertimbangkan penerbitan obligasi dalam denominasi dolar Australia senilai sekitar A$5 miliar atau setara US$3,5 miliar.
Penerbitan tersebut menjadi bagian dari tren meningkatnya kebutuhan pendanaan perusahaan hyperscaler AI yang tengah menggelontorkan investasi besar untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan.
Dengan semakin banyaknya pemerintah dan perusahaan besar yang masuk ke pasar obligasi, investor memiliki lebih banyak pilihan sekaligus menghadapi tekanan pasokan surat utang yang lebih besar.
Kondisi tersebut berpotensi membuat investor semakin selektif, khususnya dalam menentukan tingkat imbal hasil yang dianggap sepadan dengan risiko dan tenor investasi.
Di tengah tingginya utang pemerintah, tekanan inflasi, harga minyak yang masih tinggi, serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan perusahaan AI, pasar obligasi global diperkirakan tetap menjadi salah satu pusat perhatian investor dalam menentukan arah pasar keuangan dunia.












![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
