kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Aktivitas Manufaktur China Melemah Selama Lima Bulan Berturut-Turut


Minggu, 31 Agustus 2025 / 11:46 WIB
Aktivitas Manufaktur China Melemah Selama Lima Bulan Berturut-Turut
ILUSTRASI. Women work at the production line manufacturing electronic keyboards at a factory of the Tianjin Yamaha Electronic Musical Instruments Co. in Tianjin, China December 4, 2018. Picture taken December 4, 2018. REUTERS/Stringer ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Aktivitas manufaktur China kembali mengalami kontraksi pada Agustus. Ini menjadi penurunan untuk bulan kelima berturut-turut, menurut survei resmi yang dirilis Minggu. Hal ini juga menunjukkan para produsen masih menahan diri sambil menunggu kejelasan lebih lanjut terkait kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat, sementara permintaan domestik masih melemah.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur resmi naik tipis menjadi 49,4 pada Agustus dari 49,3 pada Juli, namun tetap berada di bawah ambang batas 50 yang memisahkan ekspansi dari kontraksi. Angka tersebut juga meleset dari perkiraan median 49,5 dalam jajak pendapat Reuters.

Ekonomi China saat ini menghadapi berbagai tekanan, mulai dari ekspor yang melemah akibat tarif AS, krisis sektor properti, ketidakpastian pekerjaan, beban utang tinggi pemerintah daerah, hingga cuaca ekstrem. Para ekonom menyebut tekanan ini dapat menghambat ambisi China mencapai target pertumbuhan sekitar 5% untuk tahun 2025.

Baca Juga: Kekhawatiran Permintaan China Tekan Harga Kedelai, Jagung Menguat, Gandum Melemah

Sementara itu, PMI non-manufaktur yang mencakup sektor jasa dan konstruksi mengalami pertumbuhan lebih cepat, naik menjadi 50,3 dari 50,1 pada bulan sebelumnya. Sedangkan PMI komposit yang menggabungkan sektor manufaktur dan non-manufaktur tercatat di 50,5, naik dari 50,2 pada Juli.

“Momentum ekonomi China melambat pada kuartal ketiga karena lemahnya permintaan domestik yang terus berlanjut dan pelemahan sektor properti,” ujar Zhiwei Zhang, Presiden dan Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management dikutip Reuters.

Menurut Zhang, prospek makroekonomi China untuk sisa tahun ini sangat bergantung pada berapa lama ekspor bisa bertahan kuat dan apakah kebijakan fiskal akan menjadi lebih agresif di kuartal keempat.

Meskipun ekspor pada Juli mengalahkan ekspektasi, kenaikan tersebut didorong oleh basis perbandingan yang rendah dan lonjakan pengiriman ke Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan strategi eksportir China untuk mengalihkan pasar dari AS yang kian sulit diakses suatu upaya yang oleh sebagian produsen disebut sebagai perlombaan tikus gila.

Awal bulan ini, AS dan China memperpanjang gencatan senjata tarif selama 90 hari, mempertahankan tarif 30% atas impor China dan 10% tarif balasan dari Beijing. Namun, ketidakpastian yang terus berlanjut telah mengikis kepercayaan bisnis di kedua sisi Pasifik.

Laba perusahaan industri China juga mengalami penurunan untuk bulan ketiga berturut-turut pada Juli, memperlihatkan sektor usaha masih menghadapi lemahnya permintaan dan deflasi harga pabrik, sehingga menambah tekanan bagi pemerintah untuk meluncurkan lebih banyak stimulus.

Beberapa kebijakan seperti subsidi konsumen telah digencarkan, namun kemerosotan sektor properti yang berkepanjangan masih membatasi pengeluaran rumah tangga, mengingat properti menjadi instrumen utama kekayaan warga China.

Data perbankan bulan Juli bahkan menunjukkan penurunan kredit rumah tangga untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, mencerminkan keengganan masyarakat untuk mengambil kredit baru, termasuk hipotek.

Baca Juga: Wall St Lesu Kamis (28/8): Saham Nvidia Anjlok 2,6% Imbas Ketidakpastian Pasar China

Kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat juga meningkat setelah Mahkamah Agung China baru-baru ini melarang praktik perusahaan dan pekerja yang menghindari pembayaran asuransi sosial. Kebijakan ini dapat berujung pada pemutusan hubungan kerja, terutama bagi perusahaan dan pekerja yang sudah berada dalam tekanan finansial.

Tingkat pengangguran perkotaan pun naik menjadi 5,2% pada Juli, dari 5,0% di bulan sebelumnya. Di sisi lain, keputusan tersebut diharapkan bisa membantu keuangan pemerintah daerah yang kekurangan pemasukan dari penjualan tanah, terutama untuk mengisi kembali kas dana pensiun yang terus menipis.

Cuaca ekstrem juga menambah beban anggaran. Sejak 1 Juli, kerusakan infrastruktur jalan akibat bencana cuaca telah mencapai US$ 2,2 miliar.

Sementara itu, para analis yang disurvei Reuters memperkirakan PMI versi swasta RatingDog akan berada di angka 49,7 pada Agustus, naik dari 49,5 di bulan sebelumnya. Data ini akan dirilis pada Senin.

Selanjutnya: 5 Wakil China Masuk Final BWF World Champions 2025, Indonesia Kantongi Perunggu

Menarik Dibaca: Baru, Promo PHD Pizza Buldak Hot Sauce Sensasi Pedas ala Korea Mulai Rp 79.000




TERBARU

[X]
×