Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - PARIS/SINGAPURA. Harga kedelai melemah pada Jumat (29/8/2025), melanjutkan tren penurunan mingguan setelah dua pekan kenaikan.
Tekanan harga dipicu kekhawatiran minimnya permintaan China terhadap pasokan kedelai asal Amerika Serikat (AS) di tengah ketegangan perdagangan kedua negara.
Sementara itu, harga jagung naik untuk sesi kedua berturut-turut didukung data ekspor mingguan yang kuat, sedangkan gandum justru melemah karena pasokan global yang melimpah.
Baca Juga: Trump Desak China Lipatgandakan Impor Kedelai AS, Harga Naik di Bursa Chicago
Perdagangan komoditas juga dipengaruhi oleh aksi penyesuaian posisi menjelang akhir bulan dan libur panjang akhir pekan di Amerika Serikat, di mana pasar keuangan akan tutup pada Senin mendatang untuk memperingati Hari Buruh.
Kontrak kedelai paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,5% menjadi US$ 10,43-1/4 per bushel pada pukul 11.03 GMT, mendekati level terendah satu pekan yang tercatat Kamis.
Pekan lalu, harga kedelai sempat mencapai puncak dua bulan karena harapan bahwa China akan kembali membeli kedelai asal AS setelah berbulan-bulan menolak pasokan dari sana akibat perang dagang. Namun hingga kini, belum ada pembelian yang dikonfirmasi.
"China terus membeli sebagian besar kedelai dari Brasil dan negara-negara Amerika Selatan lainnya," kata seorang pedagang minyak nabati di Singapura. "Hal ini akan terus memberi tekanan pada harga kontrak berjangka di Chicago."
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Berpotensi Dongkrak Harga Kedelai Impor, Akindo: Industri Masih Aman
Sumber perdagangan menyebutkan, importir kedelai China meningkatkan pembelian dari Argentina dan Uruguay, di samping Brasil sebagai pemasok utama, untuk menutupi kekosongan akibat ketiadaan pengiriman dari AS.
Para pelaku pasar juga akan mencermati pertemuan dagang AS-China dalam beberapa hari mendatang, dengan negosiator senior China, Li Chenggang, dijadwalkan hadir di Washington.
Prospek panen kedelai dan jagung AS yang menguntungkan turut menekan harga, meski jagung tetap ditopang oleh ekspor yang kuat. Laporan ekspor mingguan AS pada Kamis menunjukkan penjualan jagung menembus 2 juta ton metrik untuk pekan kedua berturut-turut.
Di pasar CBOT, jagung naik 0,4% menjadi US$ 4,11-1/2 per bushel, sementara gandum turun tipis 0,1% menjadi US$ 5,28-1/4 per bushel.
Baca Juga: Ketegangan AS-China Mereda, Harga Emas Dunia Terpangkas 3% Minggu Ini
Melimpahnya produksi dari panen di belahan bumi utara serta prospek membaik di negara eksportir belahan selatan seperti Argentina dan Australia menekan harga gandum sepanjang pekan ini.
Hujan di wilayah penghasil gandum Amerika Serikat dan Prancis juga meningkatkan prospek penanaman.
Penurunan harga di Rusia akibat perkiraan panen yang meningkat semakin menekan pasar, dengan ekspektasi bahwa pengiriman dari eksportir gandum terbesar dunia itu akan meningkat setelah sempat lambat di awal musim.