Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Otoritas China tengah meninjau akuisisi startup kecerdasan buatan (AI) Manus oleh Meta Platforms senilai sekitar US$2 miliar, menyusul kekhawatiran potensi pelanggaran aturan pengendalian teknologi.
Informasi tersebut dilaporkan Financial Times pada Selasa (6/1/2026), mengutip dua sumber yang mengetahui proses tersebut.
Baca Juga: Minyak Dunia Anjlok, Bursa Asia Melemah di Tengah Meningkatnya Ketegangan Global
Dalam laporannya, disebutkan bahwa pejabat Kementerian Perdagangan China sedang menilai apakah relokasi staf dan teknologi Manus ke Singapura, yang kemudian diikuti dengan penjualan perusahaan tersebut kepada Meta, memerlukan izin ekspor teknologi sesuai dengan regulasi China.
Hingga kini, Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Meta maupun Manus juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Meski masih berada pada tahap awal dan belum tentu berujung pada penyelidikan resmi, proses peninjauan ini dinilai dapat memberi Beijing ruang untuk memengaruhi transaksi tersebut.
Dalam skenario ekstrem, otoritas China bahkan berpotensi meminta kedua pihak untuk membatalkan kesepakatan.
Baca Juga: Dolar Australia Tembus Level Tertinggi 15 Bulan, Data Inflasi Masih Campuran
Meta mengakuisisi Manus pada bulan lalu. Sumber yang mengetahui transaksi tersebut sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa kesepakatan itu menilai perusahaan berbasis di Singapura tersebut di kisaran US$2 miliar hingga US$3 miliar.
Manus sempat menjadi sorotan global awal tahun ini setelah viral di platform X.
Startup tersebut merilis apa yang mereka klaim sebagai agen AI umum (general AI agent) pertama di dunia, yang mampu mengambil keputusan dan mengeksekusi tugas secara mandiri dengan kebutuhan perintah yang jauh lebih minim dibandingkan chatbot AI seperti ChatGPT maupun DeepSeek.













