Reporter: Arsy Ani Sucianingsih | Editor: Sanny Cicilia
JAKARTA. Perlambatan ekonomi China yang lebih parah akan menjadi ancaman besar bagi ekonomi negara-negara ASEAN. Hal itu bersamaan dengan keadaan keuangan yang ketat di saat negara-negara industri memberlakukan normalisasi kebijakan moneter.
Namun, berbeda dengan negara Vietnam yang diprediksi akan menjadi titik terang bagi ekonomi ASEAN. Tahun lalu, Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi 6,7% di tahun 2015, melesat dari 6% di tahun sebelumnya.
ICAEW Regional Director untuk Asia Tenggara, Mark Billington FCA, menyebutkan, hal tersebut di dorong oleh investasi asing yang mencapai tingkat yang tinggi dengan pertumbuhan ekspor di saat harga-harga komoditas berada di titik terendah.
Di sisi lain, peningkatan product domestic bruto (PDB) negara beribukota Hanoi tersebut akan diperkirakan mencapai 6% hingga 7% dari tahun 2016 hingga 2018.
"Perbaikan di akses-akses perdagangan membuat kompensasi pada perlambatan mitra dagang Vietnam. Ekonomi Vietnam juga telah didiversifikasi dengan pertumbuhan di industri non-tekstil," papar Mark, dalam rilis resminya, Selasa (15/3).
ICAEW memperkirakan, negara-negara ASEAN akan mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang sedang. Namun, Malaysia diperkirakan mengalami penurunan ekonomi menjadi 4,2% di tahun ini.
Filipina diperkirakan tumbuh 6,1%, sementara Singapura diramal mencatat tren kenaikan pertumbuhan hingga 3,3% pada tahun 2018.
"Indonesia diperkirakan akan mengalami kenaikan PDB dari 4,8% pada tahun 2015 sampai 5,1% di tahun 2016. Negara ini diperkirakan akan mengalami kenaikan PDB hingga 5,5% pada tahun 2017," kata Tom Rogers, ICAEW Economic Advisor and Associate Director, Oxford Economics.













