Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Uni Emirat Arab (UEA) resmi mengumumkan akan keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries, langkah yang dinilai menjadi pukulan besar bagi kartel produsen minyak tersebut di tengah krisis energi global yang dipicu konflik Iran.
Pengumuman yang disampaikan pada Selasa (28/4/2026) ini menandai babak baru dalam dinamika pasar minyak dunia. Sebagai salah satu produsen terbesar di dalam OPEC, keluarnya UEA berpotensi melemahkan kendali organisasi terhadap pasokan minyak global, sekaligus memperlebar ketegangan antara UEA dan Arab Saudi yang selama ini menjadi pemimpin de facto OPEC.
Keputusan ini juga membuka peluang bagi UEA untuk meningkatkan produksi minyaknya di masa depan, karena tidak lagi terikat pada kuota produksi OPEC. Terutama setelah jalur ekspor energi di kawasan Teluk kembali normal.
Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, dalam wawancara telepon dengan Reuters menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap strategi energi nasional.
"Ini adalah keputusan kebijakan yang diambil setelah melakukan peninjauan secara cermat terhadap kebijakan saat ini dan ke depan yang berkaitan dengan tingkat produksi," ujar Mazrouei.
Baca Juga: OPEC+ Tak Bubar, Tapi Kekuatan Kartel Mulai Luntur Usai UEA Angkat Kaki
Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut diambil secara independen tanpa konsultasi dengan negara lain, serta menilai permintaan energi global akan terus meningkat, sehingga UEA ingin berada dalam posisi yang fleksibel untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Dampak ke Pasar dan Selat Hormuz
UEA dijadwalkan resmi keluar dari OPEC dan aliansi OPEC+ pada 1 Mei. Menyusul pengumuman tersebut, harga minyak global sempat memangkas kenaikan, mencerminkan respons pasar terhadap potensi perubahan pasokan.
Namun, Mazrouei menyatakan bahwa dampak langsung terhadap pasar kemungkinan terbatas, terutama karena gangguan distribusi energi di Selat Hormuz.
Selat sempit yang terletak di antara Iran dan Oman ini merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Saat ini, distribusi energi dari negara-negara Teluk terganggu akibat ancaman dan serangan dari Iran terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency mencatat, pangsa produksi OPEC+ terhadap output minyak global turun menjadi 44% pada Maret, dari sekitar 48% pada Februari. Angka ini diperkirakan akan terus menurun pada April dan Mei, seiring meningkatnya gangguan produksi dan keluarnya UEA dari kelompok tersebut.
Baca Juga: Produksi Minyak OPEC Anjlok ke Level Terendah Sejak Pandemi, Hormuz Jadi Pemicu
Keuntungan bagi AS dan Konsumen Global
Langkah UEA juga dinilai sebagai keuntungan bagi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sejak lama mengkritik OPEC karena dianggap mendorong harga minyak tetap tinggi.
Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada 2018, Trump menuduh OPEC “memanfaatkan dunia” dengan menjaga harga minyak tetap tinggi, sekaligus mengaitkan dukungan militer AS di kawasan Teluk dengan kebijakan harga energi.
Analis menilai keluarnya UEA berpotensi menguntungkan konsumen global dan perekonomian secara luas. Kepala Ekonom ADCB, Monica Malik, menyebut langkah ini membuka peluang bagi UEA untuk meningkatkan pangsa pasar global ketika situasi geopolitik membaik.
Sementara itu, analis Rystad Energy, Jorge Leon, menilai UEA merupakan salah satu dari sedikit negara OPEC yang memiliki kapasitas produksi cadangan, selain Arab Saudi.
“Di luar OPEC, UEA memiliki insentif dan kemampuan untuk meningkatkan produksi, yang menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang keberlanjutan peran Arab Saudi sebagai penstabil utama pasar,” ujarnya.
Baca Juga: OPEC+ Naikkan Produksi 206.000 Bph di Tengah Gangguan Pasokan Akibat Konflik Iran
Retaknya Hubungan UEA–Arab Saudi
Keputusan ini juga mencerminkan semakin lebarnya jarak antara Abu Dhabi dan Riyadh. Kedua negara yang sebelumnya merupakan sekutu dekat kini menghadapi rivalitas dalam berbagai aspek, mulai dari kebijakan energi, geopolitik regional, hingga persaingan menarik investasi dan talenta global.
UEA sendiri dikenal sebagai pusat bisnis dan keuangan di kawasan, serta salah satu sekutu utama Amerika Serikat. Negara ini juga memperkuat hubungan dengan Israel sejak penandatanganan Abraham Accords pada 2020, yang membuka jalur kerja sama strategis di Timur Tengah.
Di tengah eskalasi konflik Iran, sejumlah pemimpin negara Teluk juga menggelar pertemuan di Arab Saudi guna merumuskan respons terhadap serangan rudal dan drone Iran yang meningkat sejak perang antara AS, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari.
Langkah UEA keluar dari OPEC diperkirakan akan membawa implikasi jangka panjang terhadap keseimbangan pasar energi global, sekaligus mempertegas perubahan lanskap geopolitik di kawasan Teluk.













