Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – LONDON. Maskapai penerbangan Eropa menghadapi tantangan terbesar sejak pandemi COVID-19, seiring konflik di Iran yang mendorong lonjakan harga bahan bakar jet serta mengganggu lalu lintas perjalanan di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini membayangi prospek musim liburan musim panas tahun ini.
Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari, harga bahan bakar jet tercatat melonjak hampir 84%. Meski demikian, sebagian besar maskapai masih mampu meredam kenaikan biaya melalui strategi lindung nilai (hedging). Namun, risiko kekurangan pasokan mulai mengemuka apabila konflik berkepanjangan.
Kepala International Air Transport Association, Willie Walsh, mengingatkan adanya potensi pembatasan distribusi bahan bakar. “Ada risiko kita akan melihat pembatasan pasokan bahan bakar, terutama di Asia dan Eropa,” ujarnya kepada Reuters, Selasa (28/4). Meski begitu, ia menegaskan pasokan saat ini masih relatif kuat.
Walsh menambahkan, dampak krisis kali ini belum separah pandemi COVID-19 pada 2020 yang menyebabkan anjloknya permintaan perjalanan dan kerugian ratusan miliar dolar di sektor penerbangan.
Baca Juga: Singapura Buka Tender Pembangkit Gas Siap Hidrogen, Target Operasi 2031–2032
“Saya pikir COVID berada pada skala yang sama sekali berbeda,” ujarnya.
“Apa yang kita lihat saat ini pada dasarnya adalah persoalan biaya bagi maskapai. Permintaan dasar untuk penerbangan tetap kuat, dan itu merupakan hal positif.” tambahnya.
Risiko Hedging Menipis
Konflik yang berlangsung juga menekan saham maskapai penerbangan, di tengah ketidakpastian negosiasi damai serta upaya pembukaan kembali Selat Hormuz yang krusial bagi kelancaran distribusi minyak dan gas global. Situasi ini disebut sebagai salah satu krisis energi terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Maskapai mulai mengingatkan bahwa perlindungan harga melalui hedging berpotensi habis dalam waktu dekat. Prospek industri pun semakin tidak menentu, seiring perubahan perilaku konsumen yang menunda pemesanan perjalanan atau memilih destinasi yang lebih dekat guna menghindari gangguan dan tarif mahal.
Menteri Energi Swedia, Ebba Busch, bahkan telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kelangkaan bahan bakar jet, meskipun pasokan saat ini masih mencukupi. Ia mengimbau masyarakat untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanan.
Namun demikian, CEO Ryanair, Michael O'Leary, menilai risiko gangguan pasokan mulai mereda setelah berdiskusi dengan para pemasok di Eropa. Sementara itu, CEO Wizz Air, Jozsef Varadi, menyebut pemesanan musim panas masih kuat.
Di sisi lain, easyJet dan operator tur TUI Group melaporkan penurunan pemesanan ke depan serta mengeluarkan peringatan penurunan laba dalam beberapa pekan terakhir.
Varadi mengingatkan, bahkan jika konflik berakhir, harga bahan bakar tidak akan segera kembali ke level sebelumnya. “Bahkan jika perang di Iran dihentikan, saya tidak berpikir hal itu akan membuat harga bahan bakar kembali seperti dua bulan lalu,” ujarnya.
Penyesuaian Industri dan Dampak Regional
Sejumlah maskapai besar seperti Air France-KLM, International Airlines Group (pemilik British Airways), serta Lufthansa dijadwalkan merilis kinerja kuartal pertama pekan ini. Ketiganya telah menaikkan harga tiket dan mengurangi kapasitas penerbangan sebagai respons terhadap tekanan biaya.
Baca Juga: Ekonomi Terancam Perang dan Utang Rumah Tangga, Thailand Tahan Suku Bunga
Maskapai di kawasan Teluk menjadi pihak yang paling terdampak. Data Cirium Ascend menunjukkan penerbangan operator Timur Tengah turun hingga 50% secara tahunan pada Maret, sementara pemesanan untuk kuartal II dan III melalui hub utama kawasan tersebut anjlok 42,5%.
Meski demikian, kapasitas penumpang global masih tumbuh sekitar 2% pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan ketahanan industri secara keseluruhan.
Di tengah tekanan, sejumlah maskapai justru mampu mengambil peluang. Maskapai nasional Finlandia, Finnair, melaporkan dampak positif bersih dari meningkatnya permintaan penerbangan ke Asia. Sementara itu, maskapai berbiaya rendah Norwegian Air Shuttle menepis kekhawatiran terkait pasokan bahan bakar.
Kepala valuasi Cirium Ascend, George Dimitroff, menilai industri penerbangan kini jauh lebih adaptif dibandingkan masa lalu. “Mereka kini jauh lebih lincah dibandingkan dekade sebelumnya,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa pandemi COVID-19 tetap menjadi krisis terbesar yang pernah dihadapi sektor ini.













