Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. NASA mengumumkan perubahan besar dalam program eksplorasi bulan Artemis program.
Badan antariksa Amerika Serikat (AS) itu kini membatalkan rencana pembangunan stasiun luar angkasa di orbit bulan dan mengalihkan fokus pada pembangunan pangkalan permanen di permukaan bulan senilai US$ 20 miliar.
Kepala NASA, Jared Isaacman, menyatakan bahwa strategi baru ini bertujuan memperluas kehadiran manusia di luar angkasa secara lebih berkelanjutan, sekaligus mempercepat upaya AS kembali ke bulan sebelum China mengirim astronotnya sekitar 2030.
Baca Juga: Australia Siap Tetapkan Harga Dasar Mineral Kritis, Tantang Dominasi China
"Pendekatan bertahap ini belajar, membangun pengalaman, mengurangi risiko, dan meningkatkan kepercayaan diri adalah cara yang sama yang membawa keberhasilan program Apollo pada 1960-an," ujar Isaacman dilansir dari Reuters Selasa (24/3/2026).
Dalam rencana tersebut, NASA akan mengirim lebih banyak wahana pendarat robotik, mengoperasikan armada drone di bulan, serta mulai mengembangkan penggunaan energi nuklir di permukaan bulan dalam beberapa tahun ke depan.
Misi Mars Berbasis Nuklir
Selain proyek bulan, NASA juga mengungkap rencana ambisius untuk meluncurkan pesawat antariksa bertenaga nuklir menuju Mars sebelum akhir 2028.
Misi ini akan menggunakan teknologi propulsi listrik nuklir untuk eksplorasi ruang angkasa dalam.
Baca Juga: SpaceX Bidik IPO Raksasa, Target Dana Tembus US$ 75 Miliar
Wahana yang dinamai Space Reactor 1 Freedom tersebut akan menjadi langkah penting dalam membawa teknologi nuklir dari tahap laboratorium ke implementasi di luar angkasa.
Setibanya di Mars, wahana ini direncanakan akan menurunkan helikopter untuk eksplorasi permukaan.
Nasib Lunar Gateway dan Mitra Internasional
Perubahan strategi ini berdampak pada proyek Lunar Gateway yang sebelumnya dirancang sebagai stasiun orbit bulan.
Proyek tersebut kini akan “dijeda” dan komponennya dialihkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur di permukaan bulan.
Baca Juga: Ternyata, Peringatan Keras dari Negara Teluk yang Bikin Trump Tak Berkutik Soal Iran
"Fokus kami kini adalah membangun infrastruktur yang mendukung operasi jangka panjang di permukaan bulan," kata Isaacman.
Keputusan ini menimbulkan ketidakpastian bagi mitra internasional seperti Jepang, Kanada, dan European Space Agency, yang sebelumnya terlibat dalam pengembangan Lunar Gateway.
Kepala European Space Agency, Josef Aschbacher, menyatakan pihaknya akan mempelajari rencana baru tersebut dan melanjutkan pembahasan dengan NASA.
Tantangan Proyek Pendaratan
Di sisi lain, proyek pendaratan manusia di bulan masih menghadapi tantangan. Dua perusahaan swasta, SpaceX milik Elon Musk dan Blue Origin milik Jeff Bezos, tengah berlomba mengembangkan kendaraan pendarat bulan.
Baca Juga: Gara-Gara Kedutaannya Dibobol, China Protes Keras ke Jepang
Namun, kedua proyek tersebut dilaporkan mengalami keterlambatan sekitar dua tahun dan masih menghadapi berbagai tantangan teknis.
NASA menyatakan akan menggunakan wahana pendarat yang paling siap terlebih dahulu, tanpa terpaku pada urutan misi yang telah direncanakan sebelumnya.
Program Artemis sendiri diluncurkan pada 2017 dan menjadi kelanjutan dari program Apollo program yang terakhir berlangsung pada 1972.













