Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Ambisi Airbus untuk menggenjot produksi pesawat kembali diuji. Produsen pesawat asal Eropa itu masih terkatung-katung tanpa kepastian pasokan mesin dari Pratt & Whitney, situasi yang mulai mengancam target produksi jangka menengah perusahaan.
Dalam laporan Reuters (5/2), hingga awal Februari, Airbus belum juga mengantongi kesepakatan pasokan mesin dengan Pratt & Whitney untuk periode krusial 2026–2027. Padahal, mesin menjadi faktor penentu bagi rencana Airbus menaikkan produksi pesawat berbadan sempit hingga 75 unit per bulan pada 2027, dari sekitar 60 unit per bulan saat ini.
Sumber industri menyebutkan, kebuntuan ini berasal dari sengketa alokasi mesin antara lini perakitan Airbus dan bengkel perawatan mesin yang melayani maskapai. Kondisi tersebut membuat pasokan mesin berjalan tersendat dan cenderung bersifat tambal sulam, tanpa kepastian jadwal yang solid.
Airbus sebelumnya mengakui bahwa pengiriman mesin datang “sangat, sangat terlambat”, terutama dari Pratt & Whitney yang berada di bawah RTX. Ketidakpastian ini menjadi semakin sensitif menjelang pengumuman kinerja keuangan Airbus pada 19 Februari mendatang.
Baca Juga: Airbus Kirim 793 Pesawat pada Tahun 2025, Lampaui Target
Masalahnya, Pratt & Whitney menyuplai sekitar 40% mesin untuk keluarga pesawat A320neo, tulang punggung penjualan Airbus di segmen pesawat lorong tunggal. Tanpa kepastian pasokan, target produksi yang agresif berisiko menjadi sekadar ambisi di atas kertas.
Presiden divisi mesin komersial Pratt & Whitney Rick Deurloo menyatakan, optimisme bahwa kesepakatan akan tercapai. Namun, pasar cenderung menunggu realisasi, bukan sekadar pernyataan. Airbus sendiri memilih irit bicara dan menolak memberikan komentar.
Tekanan mulai terlihat pada kinerja pengiriman. Pada Januari 2026, Airbus hanya mengirimkan 19 pesawat, turun dibandingkan 25 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini memperkuat sinyal bahwa persoalan rantai pasok mesin belum sepenuhnya teratasi.
Bagi Airbus, ketergantungan pada pemasok mesin kini menjadi risiko struktural. Tanpa terobosan cepat dalam negosiasi, target produksi ambisius berpotensi terganjal, sekaligus menambah ketidakpastian bagi maskapai yang menunggu pesawat baru di tengah permintaan global yang masih kuat.
Baca Juga: Air China Beli 60 Pesawat Airbus Senilai US$ 9,5 Miliar













