kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.956.000   -17.000   -0,57%
  • USD/IDR 16.846   57,00   0,34%
  • IDX 8.160   13,52   0,17%
  • KOMPAS100 1.150   3,80   0,33%
  • LQ45 838   4,83   0,58%
  • ISSI 287   -0,35   -0,12%
  • IDX30 438   4,38   1,01%
  • IDXHIDIV20 526   6,33   1,22%
  • IDX80 129   0,73   0,57%
  • IDXV30 143   1,54   1,09%
  • IDXQ30 141   1,49   1,07%

Ada Apa dengan Harga Emas? Ini Penyebab Gejolak Terbarunya


Kamis, 05 Februari 2026 / 09:22 WIB
Ada Apa dengan Harga Emas? Ini Penyebab Gejolak Terbarunya
ILUSTRASI. Investment-Gold-Bar (CFOTO via Reuters Connect/CFOTO)


Sumber: BBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pergerakan harga emas dalam beberapa hari terakhir terbilang sangat liar.

Pekan lalu, harga emas sempat menembus rekor tertinggi di atas US$ 5.500 per ons troi, setelah sepanjang setahun terakhir nilainya melonjak tajam.

Namun pada Jumat, harga emas anjlok lebih dari 9%, menjadi penurunan harian terbesar sejak 1983, lalu kembali melemah pada Senin (2/2).

Pada Selasa (3/2), emas sempat pulih dengan kenaikan lebih dari 5%, dan penguatan itu berlanjut hingga Rabu (4/2).

Meski sempat terkoreksi tajam, harga emas saat ini masih sekitar 75% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

Apa Pemicu Penurunan Terbaru?

Melansir BBC, analis menilai salah satu pemicu utama adalah keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mencalonkan Kevin Warsh sebagai kepala bank sentral AS, Federal Reserve.

Warsh dipandang pasar sebagai kandidat yang “dapat diterima dengan baik”, di tengah kekhawatiran soal independensi The Fed. Hal ini memperkuat dolar AS dan membantu menenangkan pasar.

Namun, kondisi ini justru kurang menguntungkan bagi emas, yang selama ini dipandang sebagai aset safe haven saat ketidakpastian meningkat.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 1% Kamis (5/2) Pagi: Brent ke US$68,47 & WTI ke US$64,23

Selain itu, perubahan persyaratan perdagangan di salah satu bursa besar juga membuat biaya spekulasi menjadi lebih mahal, sehingga menekan aktivitas trading.

Harga emas dan perak yang sudah melonjak tajam sejak awal tahun juga dinilai sebagian analis sudah terlalu tinggi.

Mark Matthews, Head of Research Asia di Bank Julius Baer, mengatakan kepada Reuters bahwa salah satu alasan anjloknya harga adalah karena kenaikan sebelumnya sudah terlalu ekstrem.

“Begitu aksi ambil untung dimulai, penurunannya langsung bergulir seperti bola salju,” ujarnya.

Meski begitu, tidak semua analis melihat ini sebagai awal tren turun jangka panjang. 

Analis Deutsche Bank, Michael Hsueh, menilai kondisi belum menunjukkan pembalikan tren yang berkelanjutan. Deutsche Bank bahkan tetap memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 6.000 per ons troi.

Mengapa Harga Emas Sebelumnya Naik Tajam?

Harga emas sebenarnya sudah naik perlahan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi lonjakan besar terjadi tahun lalu, dengan kenaikan tahunan terbesar sejak 1979.

Emas dikenal sebagai aset safe haven utama, yang cenderung diburu saat ketidakpastian global meningkat.

“Emas tidak terikat pada utang pihak lain seperti obligasi, atau kinerja perusahaan seperti saham. Ini adalah diversifikasi yang sangat baik di dunia yang penuh ketidakpastian,” kata Nicholas Frappell dari ABC Refinery kepada BBC.

Salah satu pemicu utama kenaikan tahun lalu adalah ketidakpastian kebijakan perdagangan AS di era Trump. Tarif “Liberation Day” yang diumumkan pada April memicu berbulan-bulan ketidakpastian.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik Lebih dari 1% Kamis (5/2) Pagi, Ditopang Ketegangan Geopolitik

Pada Januari, ancaman Trump untuk mengenakan tarif baru terhadap delapan negara Eropa terkait isu Greenland juga sempat mendorong harga emas dan perak ke rekor baru.

Kebijakan perdagangan AS yang masih berubah-ubah terus membuat investor waspada, sehingga menopang harga emas.




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×