kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.135.000   50.000   1,62%
  • USD/IDR 16.856   47,00   0,28%
  • IDX 8.081   -154,20   -1,87%
  • KOMPAS100 1.135   -21,04   -1,82%
  • LQ45 820   -14,70   -1,76%
  • ISSI 288   -4,63   -1,58%
  • IDX30 432   -7,65   -1,74%
  • IDXHIDIV20 520   -7,18   -1,36%
  • IDX80 127   -1,92   -1,49%
  • IDXV30 142   -1,55   -1,08%
  • IDXQ30 139   -2,58   -1,83%

Harga Minyak Dunia Berpotensi Bertahan Tinggi, Pasar Pantau Ketat Selat Hormuz


Senin, 02 Maret 2026 / 09:47 WIB
Harga Minyak Dunia Berpotensi Bertahan Tinggi, Pasar Pantau Ketat Selat Hormuz


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan seiring eskalasi konflik di Timur Tengah.

Fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada kelancaran arus pasokan melalui Strait of Hormuz jalur vital yang menyalurkan lebih dari 20% perdagangan minyak global.

Harga minyak mentah melonjak lebih dari 8% ke level tertinggi dalam beberapa bulan pada perdagangan Senin (2/3/2026), menjadi respons pertama pasar setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dan menewaskan Pemimpin Tertingginya, Ali Khamenei.

Baca Juga: Perang Timur Tengah Bisa Dongkrak Harga Energi, Ekonomi Singapura Ikut Terdampak

Iran kemudian membalas dengan serangan rudal ke Israel dan sejumlah negara lain.

Serangan tersebut dilaporkan merusak kapal tanker, sementara banyak pemilik kapal, perusahaan minyak besar, dan rumah dagang menghentikan sementara pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LNG melalui Selat Hormuz.

Proyeksi Bank Investasi

Sejumlah bank investasi global memberikan proyeksi berbeda:

  • Citi memperkirakan Brent akan bergerak di kisaran US$80–US$90 per barel dalam skenario dasar selama setidaknya sepekan ke depan. Namun, harga bisa kembali ke US$70 jika terjadi de-eskalasi.
  • Goldman Sachs menghitung adanya premi risiko sekitar US$18 per barel dalam harga minyak saat ini. Jika hanya 50% aliran melalui Selat Hormuz terhenti selama sebulan, premi tersebut diperkirakan menyusut menjadi sekitar US$4 per barel. Meski begitu, Goldman mengingatkan harga bisa melonjak lebih tinggi jika pasar menilai gangguan pasokan akan berlangsung lama.
  • Wood Mackenzie menyebut harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel jika arus tanker melalui Selat Hormuz tidak segera pulih. Mereka menilai gangguan ini menciptakan “dual supply shock” bukan hanya menghentikan ekspor saat ini, tetapi juga membuat tambahan produksi dan kapasitas cadangan OPEC sulit diakses selama jalur laut tersebut tertutup.

Baca Juga: Pejabat AS Ragu Rezim Iran Tumbang Usai Khamenei Tewas, Garis Keras Bisa Ambil Alih

Sementara itu, OPEC+ sebelumnya telah menyepakati kenaikan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk April. Namun, efektivitas tambahan pasokan ini dipertanyakan jika jalur distribusi utama terganggu.

Di sisi lain, analis Societe Generale menilai skenario paling mungkin adalah lonjakan harga yang bersifat sementara, diikuti koreksi sebagian ketika pasar kembali yakin terhadap keberlanjutan pasokan.

Risiko Global

Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint energi terpenting di dunia. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global, memperburuk tekanan inflasi, dan mengguncang pasar keuangan.

Dengan konflik yang masih berlangsung dan belum ada kepastian soal pembukaan penuh jalur pelayaran, volatilitas harga energi diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat.




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×