Sumber: Channel News Asia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Ketegangan yang memanas di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan berdampak hingga ke negara yang jauh dari pusat konflik, termasuk Singapura.
Hal itu disampaikan Senior Minister Lee Hsien Loong pada Sabtu (28/2) dilansir dari Channelnewsasi.
“Hari ini Israel dan AS bersama-sama menyerang Iran. Perang telah dimulai, Iran membalas. Sulit untuk memprediksi bagaimana perang ini akan berakhir,” ujar Lee di hadapan lebih dari 1.200 warga dalam perayaan Tahun Baru Imlek di Teck Ghee Community Club.
Baca Juga: Pejabat AS Ragu Rezim Iran Tumbang Usai Khamenei Tewas, Garis Keras Bisa Ambil Alih
Menurut Lee, dalam beberapa pekan terakhir ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat, dengan pengerahan kekuatan militer besar oleh Washington ke kawasan Timur Tengah.
Dampak Global & Ketidakpastian
Lee juga menyinggung kebijakan tarif yang diterapkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Tarif tersebut sempat dinyatakan ilegal oleh Supreme Court of the United States, sebelum pemerintah AS menggunakan instrumen lain untuk mengenakan tarif datar 10% ke semua negara yang sempat dinaikkan menjadi 15% sebelum kembali ke 10%.
“Banyak perubahan dramatis dan berliku-liku. Kita harus berjalan sangat hati-hati dan siap menghadapi lebih banyak perubahan,” kata Lee.
Ia menilai iklim ketidakpastian global akan menekan sentimen perdagangan dan investasi. Perusahaan akan kesulitan merencanakan ekspansi atau investasi karena tidak tahu kebijakan apa yang akan berlaku ke depan.
Sebagai ekonomi kecil dan terbuka, Singapura sangat bergantung pada perdagangan dan arus investasi global. Karena itu, gejolak geopolitik dan proteksionisme dapat berdampak langsung terhadap pertumbuhan.
Baca Juga: Bursa Jepang & Yen Terkoreksi Senin (2/3), Obligasi Menguat di Tengah Eskalasi Iran
Pemerintah Siapkan Bantuan
Meski demikian, Lee menegaskan pemerintah akan membantu warga menghadapi ketidakpastian.
Ia merujuk pada langkah-langkah yang diumumkan Perdana Menteri Lawrence Wong dalam pidato Anggaran.
Dukungan tersebut mencakup bantuan biaya hidup, termasuk pembayaran khusus antara S$200 hingga S$400 bagi warga yang memenuhi syarat, voucher CDC senilai S$500 pada Januari mendatang, serta potongan U-Save yang lebih besar.
Lee juga mencatat ekonomi Singapura tumbuh 5% pada 2025—melampaui ekspektasi. Namun ia mengingatkan capaian tersebut tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang pasti, mengingat situasi global yang tetap tidak menentu.
Pemerintah, kata dia, mengalokasikan sumber daya besar untuk memperkuat ekonomi, termasuk mendorong pekerja Singapura meningkatkan keterampilan di bidang kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Saham Singapore Airlines Anjlok 5,6% Senin (2/3), Usai Serangan Israel dan AS ke Iran
“Kita tak bisa mengendalikan apa yang terjadi di dunia, tetapi kita bisa memastikan Singapura siap menghadapi situasi apa pun,” ujar Lee.
Dengan kombinasi konflik geopolitik, volatilitas energi, dan ketidakpastian kebijakan perdagangan global, Singapura bersiap memperkuat daya tahan ekonomi domestik agar tetap kompetitif di tengah badai global.













