Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Sumber yang mengetahui pembahasan internal Gedung Putih menyebut dorongan Trump terhadap Greenland juga berkaitan dengan ambisi membangun warisan politik, yakni memperluas wilayah AS secara signifikan untuk pertama kalinya sejak Alaska dan Hawaii menjadi negara bagian pada 1959.
Trump bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer, meski Greenland saat ini sudah menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Di tengah polemik tersebut, Trump juga memicu kontroversi diplomatik dengan mempublikasikan pesan pribadi dari Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang menyatakan kebingungannya atas langkah AS terhadap Greenland.
Baca Juga: Eropa Murka! Ancaman Tarif Trump demi Greenland Picu Krisis Transatlantik
Prancis kemudian menyatakan siap berkontribusi dalam latihan militer NATO di Greenland, sementara Denmark dikabarkan tengah mempertimbangkan penempatan hingga 1.000 tentara di wilayah itu pada 2026.
Di luar isu geopolitik, Trump tetap menjadikan Davos sebagai panggung untuk mempromosikan kekuatan ekonomi AS. Gedung Putih menyebut Trump akan memamerkan capaian ekonomi domestik, meski jajak pendapat menunjukkan sebagian besar warga AS belum puas dengan pengelolaan ekonomi saat ini.
Trump juga dijadwalkan mengumumkan rencana untuk menekan biaya perumahan, termasuk membuka peluang penggunaan dana pensiun 401(k) sebagai uang muka pembelian rumah.
Selain itu, Trump akan menggelar pertemuan bilateral dengan pemimpin Swiss, Polandia, dan Mesir. Ia juga akan memimpin seremoni Board of Peace, lembaga yang dibentuknya untuk mendukung rekonstruksi Gaza—peran yang dinilai sejumlah pihak tumpang tindih dengan mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca Juga: Kongres AS Peringatkan Donald Trump: Invasi Greenland Berujung Pemakzulan
Trump menegaskan bahwa lembaga tersebut bisa terlibat dalam penanganan krisis global lainnya. Meski mengaku menyukai PBB, ia menyebut organisasi tersebut “tidak pernah mencapai potensi maksimalnya”.
Trump dijadwalkan kembali ke Washington pada Kamis malam waktu setempat, meninggalkan Davos dengan agenda ekonomi yang tertutup bayang-bayang kontroversi geopolitik.













