Sumber: Bloomberg | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Niatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengambilalih Greenland bahkan membuat orang-orang dekatnya terkejut. Kini, setelah Trump berbicara, pengambilalihan Greenland kembali jadi salah satu prioritas pejabat AS.
Sekadar info, Trump telah lama menginginkan wilayah tersebut karena alasan keamanan. Namun, menurut pemberitaan Bloomberg, mengutip sumber, setelah serangkaian aktivitas terkait masalah ini pada awal tahun lalu, termasuk kunjungan Wakil Presiden AS ke sana, masalah terkait Greenland menjadi kurang diprioritaskan.
Pernyataan Trump soal pengambilalihan Greenland usai penyerangan ke Venezuela membuat masalah ini kembali jadi prioritas utama. Selasa (6/1) lalu waktu setempat, Gedung Putih mengatakan tidak akan mengesampingkan tindakan militer.
Selain itu, para pejabat AS juga merancang strategi lain. Untuk saat ini, para pejabat AS fokus pada potensi kesepakatan bisnis yang bisa memberikan AS pengaruh yang lebih besar di pulau itu.
Baca Juga: Amerika Kian Agresif: Usai Maduro, Trump Bidik Greenland dan Kuba
Kesepakatan tersebut termasuk proyek penambangan mineral langka, serta pembangkit listrik tenaga air dan usaha lainnya. Namun, proyek-proyek ini kemungkinan tidak cukup untuk mewujudkan keinginan Trump menguasai Greenland secara cepat.
Ide lain yang dipertimbangkan Gedung Putih adalah membentuk Pakta Asosiasi Bebas, serupa perjanjian yang dimiliki AS dengan negara-negara kepulauan Pasifik. Namun, hal itu kemungkinan akan mengharuskan Denmark melepaskan kendali.
Tapi, ide-ide dari AS saat ini mendapat sambutan dingin dari pemerintah di sana dan di Denmark. Pemerintah Uni Eropa juga siap mencegah jika AS melakukan operasi militer di kawasan itu.
Baca Juga: Sejarah Greenland sebagai Wilayah Denmark dan Alasan Trump Ingin Menguasainya
“Presiden Trump telah berbicara tentang Amerika Serikat mengakuisisi Greenland selama lebih dari setahun, bahkan sebelum menjabat pada masa jabatan ini. Semua anggota inti tim keamanan nasional Presiden diberi tahu tentang semua pembaruan kebijakan luar negeri utama,” kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menanggapi permintaan komentar dari Bloomberg.
Kelly menyebut, orang-orang yang tidak menyetujui operasi tersebut dan tidak menghormati keamanan operasional serta mengeluh kepada Bloomberg dengan kebohongan terang-terangan bukanlah bagian dari kelompok tersebut.
Menurut sumber, saat ini AS belum secara serius mempertimbangkan penggunaan kekuatan untuk merebut Greenland. Para petinggi Partai Republik juga berupaya menyangkal AS sedang mempertimbangkan aksi militer minggu ini. “Kami tidak mempertimbangkan untuk melakukan operasi militer di Greenland,” kata Senator Roger Wicker, Ketua Komite Layanan Bersenjata Senat, kepada wartawan Rabu (7/1) waktu setempat.
Baca Juga: Presiden Trump Longgarkan Aturan Penerbangan Antariksa Komersial, SpaceX Diuntungkan?
Wicker menyebut, akan sangat bagus jika Greenland memutuskan menjadi bagian dari Amerika Serikat. Dia juga berharap Denmark memahami alasan mengapa AS. “Mari kita buat kesepakatan, tetapi itu hanya akan dilakukan dengan syarat yang sesuai,” sebut Wicker.
Tapi Denmark, yang telah menguasai Greenland sebagai wilayah teritorial sejak 1953, telah menolak untuk melepaskannya. Denmark telah menepis proposal dari Trump pada masa jabatan pertamanya untuk membeli Greenland.
Tawaran Kopenhagen yang memungkinkan AS memiliki kehadiran militer dan ekonomi yang lebih besar di sana belum memuaskan pemerintahan Trump.
Menteri Luar Negeri Denmark dan Greenland dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di Washington pekan depan untuk membahas masalah ini. “Dua minggu ke depan sangat penting,” kata Lars-Christian Brask, Wakil Ketua Komite Kebijakan Luar Negeri Denmark, kepada Bloomberg TV.
Baca Juga: Trump Pangkas Tarif AS untuk Otomotif Jepang Jadi 15%
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, Rabu (7/1), pembelian Greenland masih menjadi pertimbangan. “Tim saat ini sedang membicarakan seperti apa potensi pembelian tersebut,” katanya.
Trump menggunakan alasan peningkatan aktivitas angkatan laut dan aktivitas lainnya di sekitar Greenland oleh China dan Rusia untuk membenarkan seruannya agar AS mengendalikan wilayah tersebut.
Pejabat Denmark dan Greenland berpendapat kekhawatiran tersebut dilebih-lebihkan dan telah menawarkan untuk membiarkan AS menambah kehadiran militernya di sana.
Trump pertama kali mengemukakan ide untuk membeli Greenland pada tahun 2019, selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden. Sejak kembali ke Gedung Putih, ia meningkatkan retorikanya. Pada Desember lalu, badan intelijen Denmark untuk pertama kalinya menggambarkan AS sebagai potensi risiko keamanan.












