Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi telah memangkas kapasitas produksi minyak kerajaan tersebut sekitar 600.000 barel per hari (bph) dan mengurangi aliran (throughput) pada pipa East-West sekitar 700.000 bph, demikian dilaporkan kantor berita pemerintah Saudi, SPA, pada Kamis (9/4/2026), mengutip sumber resmi di Kementerian Energi.
Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, memainkan peran sentral di pasar minyak mentah global. Negara itu telah menjadi sasaran serangan ratusan rudal dan drone Iran sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran. Sebagian besar serangan berhasil dicegat, menurut otoritas.
Mengutip Reuters, berikut beberapa tanggapan dari analis dan pedagang:
SHOHRUH ZUKHRITDINOV, PEDAGANG MINYAK BERBASIS DI DUBAI
“Ini adalah guncangan logistik yang terjadi di atas guncangan produksi. Pasar telah kehilangan jalur alternatif utamanya untuk Selat Hormuz.”
Baca Juga: Korban Tewas Capai 300 Jiwa: Ini Syarat Israel untuk Damai dengan Lebanon
EDWARD MEIR, ANALIS MAREX
“Pasar minyak saat ini cukup ketat, dan meskipun Saudi memiliki keuntungan bisa mengekspor melalui pipa ke Laut Merah, fakta bahwa jalur ini juga terdampak cukup mengejutkan dan semakin bersifat bullish (mendorong kenaikan harga minyak), karena sebelumnya diperkirakan titik transit ini mengalami lebih sedikit masalah.
Gangguan ekspor dari kawasan Teluk juga menjelaskan mengapa harga fisik berada jauh di atas harga kontrak berjangka dan belakangan tidak turun banyak.”
Tonton: Iran Tutup Selat Hormuz Lagi Buntut Israel Serang Lebanon! Gencatan Senjata Terancam Runtuh
GIOVANNI STAUNOVO, ANALIS UBS
"Perkembangan ini semakin memperketat pasar minyak, mengurangi aliran pasokan yang bisa melewati Selat Hormuz, serta menurunkan kapasitas produksi Arab Saudi.”













