Sumber: Fortune,Fortune | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga kripto anjlok tajam pekan ini, dengan Bitcoin sempat terjun hampir US$ 15.000 hanya dalam 24 jam, sebuah penurunan yang jarang terjadi sejak runtuhnya kerajaan Sam Bankman-Fried pada 2022.
Data Fortune menunjukkan, pada Jumat (5/2/2026), Bitcoin memang berhasil memangkas sebagian besar kerugiannya dan kini kembali diperdagangkan di kisaran US$ 70.000. Namun, kejadian ini membuat bahkan pelaku lama di industri kripto saling bertanya, “Sebenarnya apa yang baru saja terjadi?”
Berbagai teori bermunculan, tetapi satu penjelasan dinilai cukup kuat: penyebab kejatuhan ini diduga berasal dari para trader dan hedge fund di Hong Kong yang memasang taruhan Bitcoin dengan leverage tinggi. Dan, taruhan itu berakhir buruk.
Teori ini pertama kali diungkapkan oleh Parker White, mantan trader saham yang kini menjabat sebagai COO di perusahaan kripto DeFi Development Corporation. Dalam utas panjang di platform X, White menyebut ada indikasi runtuhnya hedge fund Hong Kong yang memegang opsi beli (call options) pada ETF Bitcoin milik BlackRock, IBIT, yang merupakan ETF Bitcoin terbesar di dunia.
White menjelaskan, hedge fund tersebut diduga menggunakan strategi Yen carry trade, yakni bentuk arbitrase suku bunga, untuk membiayai posisi besar di opsi IBIT yang jauh di luar harga pasar (out-of-the-money). Ini pada dasarnya adalah taruhan berisiko tinggi bahwa harga Bitcoin, yang sudah melemah sejak aksi jual besar pada Oktober, akan segera pulih.
Baca Juga: Iran Ancam Serang Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Diserang
Namun, reli yang diharapkan tak kunjung datang. Di saat yang sama, White berspekulasi bahwa hedge fund Hong Kong juga terpukul oleh tekanan di pasar Yen serta eksposur terhadap gejolak terbaru di pasar perak (silver).
Akibatnya, hedge fund tersebut menghadapi “badai sempurna”. Ketika pasar kripto terus melemah minggu ini, nilai aset mereka turun hingga akhirnya terkena likuidasi. Hal ini memicu aksi jual besar-besaran saham ETF IBIT, yang kemudian menyeret harga Bitcoin turun drastis.
Dalam penjelasan dengan bahasa trader, White menggambarkan kemungkinan bahwa hedge fund tersebut menjalankan strategi opsi dengan leverage tinggi menggunakan dana pinjaman dalam Yen. Kerugian yang terjadi sejak Oktober diduga membuat neraca keuangan mereka bocor, lalu mereka mencoba menutup kerugian dengan menambah leverage sambil menunggu rebound yang dianggap “pasti”.
Namun, kerugian yang terus membesar, ditambah biaya pendanaan Yen yang meningkat, membuat situasi semakin terdesak. White juga menyebut kemungkinan hedge fund itu ikut masuk ke perdagangan perak sebagai upaya terakhir. Ketika strategi tersebut gagal, tekanan di Bitcoin menjadi pukulan terakhir yang “menghabisi” mereka.
Baca Juga: Trump Klaim Menang Lawan Inflasi Berulang Kali, Harga Masih Tekan Warga AS
White juga menekankan bahwa hedge fund Hong Kong ini tidak benar-benar bagian dari ekosistem kripto tradisional, karena mereka hanya bertransaksi lewat saham ETF, bukan langsung di bursa kripto. Akibatnya, masalah mereka tidak ramai dibicarakan di “Crypto Twitter”, yang biasanya menjadi pusat informasi industri. Tidak ada pula pihak lawan transaksi yang mengalami kerugian besar dan memberi peringatan ke pasar.
Meski demikian, White sendiri menegaskan bahwa ini masih sebatas teori. Sejarah menunjukkan, kejatuhan besar Bitcoin biasanya dipicu oleh banyak faktor, bukan satu penyebab tunggal.
Faktanya, gejolak kripto pekan ini juga bertepatan dengan aksi jual aset terkait AI, ketidakpastian soal nasib rancangan undang-undang blockchain penting, serta munculnya nama-nama kripto dalam berkas Epstein. Semua faktor ini kemungkinan ikut memperparah kejatuhan pasar.
Meski begitu, penjelasan White dinilai sebagai salah satu yang paling masuk akal. Teori ini juga didukung oleh sejumlah bukti tidak langsung, termasuk keputusan terbaru Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) yang melonggarkan batasan perdagangan opsi Bitcoin.
Tonton: Cara Memilih Saham ala Warren Buffett & Charlie Munger: Fokus Bisnis, Bukan Harga Harian
Sejumlah tokoh senior kripto lainnya juga menyatakan dukungan hati-hati terhadap teori hedge fund Hong Kong ini. Salah satunya adalah investor ventura ternama Haseeb Qureshi, yang menyebut teori tersebut masuk akal, meski ia menambahkan bahwa konfirmasi bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga laporan regulasi tersedia. Ia juga mengingatkan bahwa dalam dunia kripto, kadang ada pemain besar yang “meledak” tanpa pernah diketahui identitasnya.
Bagi sebagian pelaku pasar yang yakin hedge fund adalah biang kerok gejolak minggu ini, bahkan sudah muncul forum taruhan di Polymarket untuk menebak siapa pihak yang bertanggung jawab.













